Friday, October 23, 2015

Hal Yang Patut Direnungkan



Aku belumur keluh kesah yang sia-sia selama tidak mendapatkan apa yang kuharapkan. Tanpa dibius rasa tertegun akan berkat-Nya yang berlimpah aku masih bersungut-sungut. Lupa mensyukuri segala yang Ia berikan tanpa kuminta, seperti hembusan nafas misalnya. Kadang aku merasa bahwa berjalan bersama Tuhan Yesus terlalu berliku dan panjang tiada akhir. Tanpa aku sadari, setiap aku kehausan aku diberi-Nya “air”. Tanpa biaya aku diberkatinya meski tidak berlimpah atas kaca mata manusia. Seharusnya aku merenungkan ini terlebih dahulu. Dengan jumawa aku menyalahkan Tuhan atas keadaan yang kuterima ini. Lagi-lagi tanpa sadar aku menggantung Iman yang kumiliki sejak aku lahir.

Rasanya seperti begitu lama aku ada di gurun ketidak mewahan. Tak memiliki sesuatu tuk dibanggakan, tak ada prestasi yang bisa kuperlihatkan, tak ada harta untuk memberi lebih kepada orang-orang. Ini begitu perih, Tuhan. Aku bagai telapak kaki yang terlupakan. Tanpa aku sadari bahwa sejak aku lahir, Kau telah menjadikan aku biji mataMu! Lebih dekat dari urat nadi yang berdenyut dalam tubuhku. Engkau menjadikan aku layak lebih dari sepantasnya, Bapa. Lagi-lagi aku memberi pertanyaan yang tidak pantas Kau dengar dalam hatiku. “Mengapa aku, Tuhan? Mengapa harus aku yang merasakan ini padahal Engkau tahu aku begitu setia mengikut Engkau?” sungguh hal yang patut aku renungkan sebelum mengucap ini. Seharusnya aku lebih meresapi waktu selama berjalan dengan Tuhan tanpa mengeluh. Karena dengan itu aku hanya mampu menyerah di bawah kaki-Mu, Tuhan. Sometimes, God's planning and timing is not just about something we have to do until we get what we want. But about the process of becoming what God's wants us to be.


Bagai dikuliti oleh kemiskinan hati, aku berusaha tidak mengecewakan Engkau. Setiap kali aku ingin mencoba “kembali”, roh jahat itu menyelimutiku tanpa sudi merelakan aku kembali suci. Inilah aku Bapa, anak-Mu yang ingin pulang dan berusaha untuk tetap setia. Pilihan-Mu terkadang membuat batinku sakit, Tuhan. Tapi kini aku mau menerimanya sebagai hadiah yang kau bungkus dengan masalah dan suatu saat aku mendapatkan anugerah yang terindah. Hanya melalui Engkau, bahwa Yesuslah satu-satunya yang layak dipuji dan sembah. 

Didikan-Mu memang keras Bapa. Namun dengan inilah Kau menjadikan aku alat yang hebat. Hanya Engkaulah Yesus dan Juru Selamatku. Kini dengan sadarku, aku percaya dalam nama-Mu bahwa bukan karena aku mengharapkan sesuatu yang indah akan Kau beri berlimpah-limpah dihidupku, tapi karena aku tahu selara apapun duka yang terasa bergejolak di dalam jiwa, Engkau tetap berdiri di sebelah kananku untuk merangkul tangan ini yang berlumur dosa. Aku akan setia pada-Mu sebab aku percaya, Kau rela memapahku yang lemah tesisa getah dosa. Seharusnya aku malu untuk kembali karena Engkau yang empunya Kerajaan, selalu sudi menunggu anak-Mu pulang. Namun Engkau Bapa yang sungguh Mulia Kasihnya. Dibaluri-Nya aku dengan darah tidak bersalah. Hal ini harus direnungkan. Entah aku berada di Gurun atau Lembah. Hamparan bukit Sion ataupun Laut Mati, dalam gelap maupun terang, saat sesak atau lengang, Yesus berjanji tetap ada bersamaku dan aku telah percaya akan hal itu.

Ada beberapa  dari mereka yang tidak mengetahuiku dengan baik, menyimpan dengki dalam hatinya. Tapi aku bersyukur Engkau tidak memandang rupaku tapi mengindahkan hatiku, Bapa. Aku telah kau bentuk seraya bersuka cita, manusia yang sempurna tanpa bercacat cela.


Lubuk hatiku pernah menyimpan luka dari seseorang yang tiba-tiba pergi meninggalkan. Tapi aku meneladani-Mu, yang pernah ditinggalkan sendiri namun tetap mengampuni.


Biarlah aku kini boleh tersungkur dengan bangga memuji dan memuliakan nama-Mu dalam sisa hidupku. Hingga tiba saatnya nanti, kiranya aku boleh menetap dalam Kerajaan-Mu, Tuhan. Biarlah aku memantaskan diri selama aku masih memiliki waktu di dunia ini.

Dan ada satu hal terakhir untuk direnungkan oleh orang-orang yang percaya Tuhan. Pernah kubaca sebuah postingan melalui media sosial. Adakah satu diantara kita yang sudah bertanya mengenai harga Oksigen? Kurang lebih Rp. 25.000/ltr. Dan pernahkah kita menanyakan harga Nitrogen di Apotek? Yang kurang lebih harganya berkisar Rp. 9.950/ltr. Tahukah kita bahwa dalam satu hari manusia menghirup 2.880 liter Oksigen & 11.376 liter Nitrogen?

2.880 x Rp. 25.000 = Rp. 72.000.000,-
11.376 x Rp. 9.950 = Rp. 113.191.200,-
Jadi total biaya untuk bernafas 1 hari adalah Rp. 72.000.000 + Rp. 113. 191. 200 = Rp. 185.191. 200,
Bila sebulan totalnya menjadi 30 hari x Rp. 185.191.200 = Rp. 5.555.736.000,-
Bila dalam satu tahun maka totalnya adalah 365 hari x Rp. 185.191.200 = Rp. 67.594.788.000,-
Jadi, jika kita hargai dalam jumlah Rupiah, maka Oksigen dan Nitrogen yang kita hirup mencapai lebih dari Rp. 185.000.000/hari, Rp. 5.500.000.000/bulan dan Rp. 67.500.000.000/tahun.

            Barangkali manusia terkaya di Bumi pun akan kesulitan untuk membiayai nafas hidupnya. Betapa besar kasih karunia Tuhan dalam hidup kita meski hal terpenting untuk hidup pribadi kita saja sering kali kita abaikan dalam bentuk syukur. The things you take for granted, someone else is praying for. While you wake up today, someone is taking their last breath. Thank God for another day, don't waste it. Masihkah kita mau menuntut sesuatu yang Tuhan belum berikan dalam hidup kita? Only remember one thing, God’s timing is always perfect. Just need a little patience and faith, but it’s worth the wait. Tuhan Yesus memberkati.

No comments:

Post a Comment

Hiduplah Dengannya.

Sam Smith - How Will I Know  Ketika puing-puing kenangan yang tersisa masih berputar, tinggal aku yang meratapi bekas jeja...