Wednesday, October 21, 2015

Secarik Pesan Untuk Putri Tunggalku


Dentuman detak jantung yang seirama dengan langkah kaki putri tunggalku menuju altar, membuatku menitikkan air mata bahagia dengan tangan gemetar. Ia merangkul lengan tanganku dengan lembut, senyum menyapa ribuan tamu yang datang untuk menyaksikan pemberkatan pernikahan. Sesekali ia melambaikan tangan kepada rekan dan teman-teman. Lima langkah sebelum sampai di altar, langkah putriku terhenti dan mengecup pipi keriputku yang tak sekencang dulu. Air mataku belum turun membasahi wajah sampai akhirnya pria yang ia pilih tuk mendampinginya seumur hidup meraih tangannya mengambil putriku untuk berdiri berdampingan di depan pendeta.


            Hai nak, pria yang putri tunggalku pilih untuk mendampinginya seumur hidup.. Aku belum pernah mengenalmu sebelumnya. Namun kehadiranmu dalam hidupnya telah membawa banyak perubahan. Ia jadi lebih lama saat mandi sekarang sambil bernyanyi dengan merdu suaranya. Sesekali ia kebingungan untuk menggunakan gaun yang mana untuk memantaskan diri makan malam denganmu. Meskipun menurutku dan istriku ia adalah wanita tercantik dengan apapun yang ia kenakan. Sebelum kau hadir dalam hidupnya, hari Sabtu dan Minggu hanya untuk aku dan istriku yang kami habiskan bersama. Kini kau pemilik hari akhir pekan dari segala waktu lenggang yang ia punya. Sebaiknya kamu tahu juga bahwa ia rela menghabiskan waktunya berjam-jam di depan laptop hanya untuk mencari resep makanan dan cara belajar untuk masak ketika sudah menikah denganmu. Dan saat pulang larut malam, ia sering sekali membawa senyuman termanis saat menutup pintu rumah usai kau antarkan anakku pulang. Dimana selama hampir seluruh dari umurnya, senyuman itu hanya milikku seorang juga istriku. Teringat saat putri kecilku yang kini beranjak menjadi wanita dewasa sepenuhnya, mendapat juara pertama lomba menulis puisi saat berumur 15 tahun. Ia melemparkan senyuman terindah saat melihatku dan istriku hadir ketika ia menerima penghargaan tersebut. Kami menitikkan air mata karena terlalu bangga atas apa yang ia perbuat dalam hidupnya juga hidup kami.


            Putriku adalah nada terindah dari setiap nada yang pernah dilantunkan oleh penyanyi kelas dunia. Dengan hasil keringat dari jerih payahku sendiri, aku berusaha memberi fasilitas terbaik meskipun dengan kekurangan agar ia mampu menyelesaikan pendidikan setinggi-tingginya. Karena aku dan istriku tak ingin putri tunggalku merasakan susahnya mengais secarik kertas rupiah dengan berlumur keringat seperti yang aku kerjakan selama menghidupinya. Aku hanyalah pria dengan tamatan sekolah tanpa gelar Sarjana. Saat malam mulai berganti pagi, sebelum matahari terbit dan ayam berkokok, aku mengambil Alkitab dan melipat tanganku lalu berdoa untuk keluarga kecil ini. Kiranya Tuhan sudi memberiku umur panjang agar aku punya kesempatan untuk menyeleksi siapa pada akhirnya pria yang pantas mendampinginya seumur hidup. Bahkan jika Tuhan mengizinkan, biarlah pria pendamping putriku nanti akan menjaga dan melindungi putriku lebih baik dari apa yang bisa dan pernah aku lakukan untuknya. Menjaga anak perempuan sungguh mahal harganya melampaui berlian. Tergores sedikit saja maka “harganya turun”.


            Mungkin sudah saatnya kini aku mulai merelakan putri tunggalku untuk mendampingimu seumur hidup, pria gagah yang terpilih. Ini adalah momen mengharukan juga membahagiakan. Dimana aku akan mulai pensiun menjaganya bak pahlawan yang tak pernah lengah untuk mengawasinya. Meskipun aku tahu bahwa putriku yang telah beranjak dewasa akan tetap menjadikanku pahlawan dalam hidupnya. Namun pahamilah nak, ia akan tetap membutuhkanmu juga untuk menjaga dirinya. Dan mengandalkanmu dalam mengambil keputusan dari sebuah pilihan. Atas semua kata yang kutulis dan ucapkan, aku hanya ingin berpesan. Mungkin anak perempuanku bukan satu-satunya wanita tercantik yang pernah kau temui, tapi yakinkanlah dirimu bahwa anakku adalah yang terbaik untuk mendampingimu seumur hidup. Yang telah Tuhan pilihkan jadi tempat terakhir kau berlayar mencari cinta yang abadi. Teguhkanlah keyakinan dalam hatimu bahwa putriku adalah wanita yang mampu membuatmu menjadi pribadi yang lebih kuat dan dewasa setiap harinya. Aku tahu bahwa suatu saat setelah pernikahan ini mempunyai umur yang banyak, perjalanan cinta kalian tidak akan semulus yang sedang dihadapi sekarang ini. Namun tetaplah saling merangkul satu sama lain. Genggamlah tangan kalian bersama dengan berjalan di atas kepercayaan pada Tuhan, bahwa segala sesuatu permasalahan dalam hidup akan kalian hadapi bersama seperti janji kalian di hadapan Tuhan, “I, Shawn Alexander Mendes, take you, Priscilla Marie Bianx, to be my wife. I promise to be true to you in good times and in bad, in sickness and in health. I will love you and honour you all the days of my life.

I, Priscilla Marie Bianx, take you, Shawn Alexander Mendes, to be my lawfully wedded husband, to have and to hold, from this day forward, for better, for worse, for richer, for poorer, in sickness and in health, until death do us part.” Ingatlah suatu hal, when God wants us to grow, He makes us uncomfortable.

 Nak, tolong tetap pertahankan seyum terindahnya seperti saat ia selesai bertemu denganmu. Karna kau tahu aku dan istriku tidak selalu bisa membuatnya tersenyum seperti saat ia masih satu atap dengan kami. Jangan pernah lepaskan genggaman tanganmu pada putri tunggalku sehebat apapun badai permasalahan yang menerpa rumah tanggamu. Karena Tuhan kita selalu memiliki jalan keluar untuk setiap permasalahan yang ada. Ingatlah saat – saat kau ingin mendapatkannya, kau berjuang setengah mati mendapatkan restu dariku. Jadilah penyangga saat ia tak sekuat dulu untuk berjalan. Saat hari-hari sehat kalian habis direnggut usia. Seperti yang telah kulakukan dulu dengan istriku, ketika putri kecil kami sedang belajar untuk berjalan lancar diusianya yang masih belia. Tegur dan berilah nasihat yang baik untuk putriku ketika ia berada pada jalan yang salah. And the most important thing is make her feel you are the “home” of her life. Karena sejauh dan senyaman apapun di luar sana, rumah adalah satu-satunya tempat dimana kita akan kembali pulang. Buatlah ia merasa seperti di rumah saat bersamamu. Dimana ia harus kembali untuk pulang ke tempat asalnya. You have to make her happy, because now my wife and I couldn’t make her happy every single time. Di dekat putriku adalah hal yang selalu berkesan. Ialah asa dan masa depan. Pada putri kecilku yang telah beranjak dewasa aku menaruh harapan, kelak ia mampu berdiri kokoh menjadi istri yang bijak menahan kerasnya batu karang tentang kehidupan. Ya, nak.. Menikahlah dengannya. Aku yakin ia pilihan Tuhan yang paling tepat untukmu sampai maut memisahkan.


            Mungkin aku adalah pahlawan yang tak akan ia lupakan sepanjang hidupnya. Namun aku tak bisa memberikan cinta seperti yang kau berikan padanya, maka aku yakin kamu mampu membuatnya bahagia dengan cinta yang penuh rasa percaya. Pernah kuminta pada Tuhan, bahwa ketika ia jatuh cinta pada seseorang, jatuh cintakanlah putriku kepada laki-laki yang melabuhkan cinta hanya kepadaNya. Agar kelak akan bertambah cinta anakku kepada Sang Pencipta. Juga bukan terjebak pada cinta yang penuh nafsu. Kini aku sudah terlihat seperti istriku yang bercakap banyak menyamai satu buku novel dengan 1000 halaman. Terima kasih, Nak. Telah ikhlas mendengar pesan panjangku ini. Aku kini lebih lega dan berbesar hati merelakan putriku hidup bersamamu hingga kalian menua bersama. 


Untuk laki-laki gagah yang dipilih Tuhan mendampingi putri tunggalku, selamat menempuh hidup baru dan menua bersama 💜

-end-

No comments:

Post a Comment

Hiduplah Dengannya.

Sam Smith - How Will I Know  Ketika puing-puing kenangan yang tersisa masih berputar, tinggal aku yang meratapi bekas jeja...