Tuesday, December 22, 2015

Kau Lebih Indah Dari Ucapan Kata


Hari - hari berlalu sama seperti biasanya
Hanya saja lebih indah karena engkau selalu ada
Sebelum matahari terbit kau sudah membuka mata
Untuk memulai hidup yang penuh suka dan duka.

Mom..
Engkau selalu berarti untukku tak hanya dihari ini
Kau seperti doa dari setiap hati seluruh anak di dunia
Yang selalu kuat dalam cobaan dan memberiku cermin agar mampu melawan derasnya air mata yang turun bagai hujan.

Kau adalah inspirasi yang berharga dari terbentuknya kehidupan.
Memapahku supaya tegar menghadapi rintangan.
Selalu percaya Tuhan dan tetap membangun setumpuk kesabaran
Kesuksesan yang kuraih adalah segelintir doa yang kau awali dalam keyakinan
Engkau memang indah lebih dari sekumpulan awan
Cinta kasihmu tak pernah padam selalu tumbuh dalam keabadian.



Ini aku, yang menyebutmu sebagai pahlawan sepanjang usia.
Telah menahan kami selama sembilan bulan dan menderita
Adalah hal yang tak mungkin dilakukan oleh manusia biasa
Kau lebih sempurna dari setiap kata yang dapat kau baca.


Ma..
Berjuta maaf tergeletak lemah atas setiap air mata yang jatuh di wajahmu.
Untuk setiap keringat yang bercucuran demi menyambung kehidupan, kau rela menyimpan dalam-dalam sebuah kesedihan.
Aku begitu ingin agar engkau mampu kubahagiakan.
Meski tak akan ada setitik dari usahaku yang menggantikan.

Mom..
Kau adalah detak jantung yang tak pernah berhenti berdegub dalam hidupku.
Tempatku mengadu tentang kehidupan  yang membingungkan.
Juga menjadi pilar rumah tangga yang kokoh meski sering diterpa kekecewaan.
Dalam senyum kau basuh letihmu, sedari subuh hingga larut malam derita pun tetap kau simpan.

Bukan segumpal kilau berlian yang kau harapkan dalam sukses yang kuraih.
Juga bukan setumpuk uang yang kau minta atas keberhasilan yang ada.
Tidak dengan sebatang perunggu kau minta dibahagiakan.
Bahkan sering kali kau memohon maaf karena merasa  belum membahagiakan aku.
Perlu kau ketahui, engkaulah KEBAHAGIAANKU.

Cintamu takkan terhapuskan oleh derasnya ombak lautan.
Walau amarah sang Bumi menghanguskan negeri, kasih sayangmu masih tak terkalahkan.
Mom.. Tetaplah kuat dan berdiri kokoh sebagai ciptaan Tuhan yang lebih dari kata indah.
Cantik hatimu adalah ceminan pelangi yang menari setelah hujan.
Aku menyayangimu sejak dulu, sekarang, bahkan sampai tak lagi dapat menatapku dengan mataku.

Happy Mother's Day wanita-wanita yang di kepalanya ada cahaya! :*

* Terinspirasi oleh wanita-wanita kuat dan tangguh dalam hidupku!
Selamat hari Ibu untuk Mami tersayang (Anna Sinaga),
untuk Mama tersayang (Esther Sinaga) &
Tante Oshie (Ria Sinaga) juga untuk  seluruh 
Ibu, Mama, Mami, Bunda dimanapun kalian berada.
God bless and spread the LOVE!

We may not ever know all the jobs that you have done. But as many as you've had, can I take another one?

We thank you for all your hard work in our life. And so from here and out let us take care of you. 


With Love, MP♥  

Friday, October 23, 2015

Hal Yang Patut Direnungkan



Aku belumur keluh kesah yang sia-sia selama tidak mendapatkan apa yang kuharapkan. Tanpa dibius rasa tertegun akan berkat-Nya yang berlimpah aku masih bersungut-sungut. Lupa mensyukuri segala yang Ia berikan tanpa kuminta, seperti hembusan nafas misalnya. Kadang aku merasa bahwa berjalan bersama Tuhan Yesus terlalu berliku dan panjang tiada akhir. Tanpa aku sadari, setiap aku kehausan aku diberi-Nya “air”. Tanpa biaya aku diberkatinya meski tidak berlimpah atas kaca mata manusia. Seharusnya aku merenungkan ini terlebih dahulu. Dengan jumawa aku menyalahkan Tuhan atas keadaan yang kuterima ini. Lagi-lagi tanpa sadar aku menggantung Iman yang kumiliki sejak aku lahir.

Rasanya seperti begitu lama aku ada di gurun ketidak mewahan. Tak memiliki sesuatu tuk dibanggakan, tak ada prestasi yang bisa kuperlihatkan, tak ada harta untuk memberi lebih kepada orang-orang. Ini begitu perih, Tuhan. Aku bagai telapak kaki yang terlupakan. Tanpa aku sadari bahwa sejak aku lahir, Kau telah menjadikan aku biji mataMu! Lebih dekat dari urat nadi yang berdenyut dalam tubuhku. Engkau menjadikan aku layak lebih dari sepantasnya, Bapa. Lagi-lagi aku memberi pertanyaan yang tidak pantas Kau dengar dalam hatiku. “Mengapa aku, Tuhan? Mengapa harus aku yang merasakan ini padahal Engkau tahu aku begitu setia mengikut Engkau?” sungguh hal yang patut aku renungkan sebelum mengucap ini. Seharusnya aku lebih meresapi waktu selama berjalan dengan Tuhan tanpa mengeluh. Karena dengan itu aku hanya mampu menyerah di bawah kaki-Mu, Tuhan. Sometimes, God's planning and timing is not just about something we have to do until we get what we want. But about the process of becoming what God's wants us to be.


Bagai dikuliti oleh kemiskinan hati, aku berusaha tidak mengecewakan Engkau. Setiap kali aku ingin mencoba “kembali”, roh jahat itu menyelimutiku tanpa sudi merelakan aku kembali suci. Inilah aku Bapa, anak-Mu yang ingin pulang dan berusaha untuk tetap setia. Pilihan-Mu terkadang membuat batinku sakit, Tuhan. Tapi kini aku mau menerimanya sebagai hadiah yang kau bungkus dengan masalah dan suatu saat aku mendapatkan anugerah yang terindah. Hanya melalui Engkau, bahwa Yesuslah satu-satunya yang layak dipuji dan sembah. 

Didikan-Mu memang keras Bapa. Namun dengan inilah Kau menjadikan aku alat yang hebat. Hanya Engkaulah Yesus dan Juru Selamatku. Kini dengan sadarku, aku percaya dalam nama-Mu bahwa bukan karena aku mengharapkan sesuatu yang indah akan Kau beri berlimpah-limpah dihidupku, tapi karena aku tahu selara apapun duka yang terasa bergejolak di dalam jiwa, Engkau tetap berdiri di sebelah kananku untuk merangkul tangan ini yang berlumur dosa. Aku akan setia pada-Mu sebab aku percaya, Kau rela memapahku yang lemah tesisa getah dosa. Seharusnya aku malu untuk kembali karena Engkau yang empunya Kerajaan, selalu sudi menunggu anak-Mu pulang. Namun Engkau Bapa yang sungguh Mulia Kasihnya. Dibaluri-Nya aku dengan darah tidak bersalah. Hal ini harus direnungkan. Entah aku berada di Gurun atau Lembah. Hamparan bukit Sion ataupun Laut Mati, dalam gelap maupun terang, saat sesak atau lengang, Yesus berjanji tetap ada bersamaku dan aku telah percaya akan hal itu.

Ada beberapa  dari mereka yang tidak mengetahuiku dengan baik, menyimpan dengki dalam hatinya. Tapi aku bersyukur Engkau tidak memandang rupaku tapi mengindahkan hatiku, Bapa. Aku telah kau bentuk seraya bersuka cita, manusia yang sempurna tanpa bercacat cela.


Lubuk hatiku pernah menyimpan luka dari seseorang yang tiba-tiba pergi meninggalkan. Tapi aku meneladani-Mu, yang pernah ditinggalkan sendiri namun tetap mengampuni.


Biarlah aku kini boleh tersungkur dengan bangga memuji dan memuliakan nama-Mu dalam sisa hidupku. Hingga tiba saatnya nanti, kiranya aku boleh menetap dalam Kerajaan-Mu, Tuhan. Biarlah aku memantaskan diri selama aku masih memiliki waktu di dunia ini.

Dan ada satu hal terakhir untuk direnungkan oleh orang-orang yang percaya Tuhan. Pernah kubaca sebuah postingan melalui media sosial. Adakah satu diantara kita yang sudah bertanya mengenai harga Oksigen? Kurang lebih Rp. 25.000/ltr. Dan pernahkah kita menanyakan harga Nitrogen di Apotek? Yang kurang lebih harganya berkisar Rp. 9.950/ltr. Tahukah kita bahwa dalam satu hari manusia menghirup 2.880 liter Oksigen & 11.376 liter Nitrogen?

2.880 x Rp. 25.000 = Rp. 72.000.000,-
11.376 x Rp. 9.950 = Rp. 113.191.200,-
Jadi total biaya untuk bernafas 1 hari adalah Rp. 72.000.000 + Rp. 113. 191. 200 = Rp. 185.191. 200,
Bila sebulan totalnya menjadi 30 hari x Rp. 185.191.200 = Rp. 5.555.736.000,-
Bila dalam satu tahun maka totalnya adalah 365 hari x Rp. 185.191.200 = Rp. 67.594.788.000,-
Jadi, jika kita hargai dalam jumlah Rupiah, maka Oksigen dan Nitrogen yang kita hirup mencapai lebih dari Rp. 185.000.000/hari, Rp. 5.500.000.000/bulan dan Rp. 67.500.000.000/tahun.

            Barangkali manusia terkaya di Bumi pun akan kesulitan untuk membiayai nafas hidupnya. Betapa besar kasih karunia Tuhan dalam hidup kita meski hal terpenting untuk hidup pribadi kita saja sering kali kita abaikan dalam bentuk syukur. The things you take for granted, someone else is praying for. While you wake up today, someone is taking their last breath. Thank God for another day, don't waste it. Masihkah kita mau menuntut sesuatu yang Tuhan belum berikan dalam hidup kita? Only remember one thing, God’s timing is always perfect. Just need a little patience and faith, but it’s worth the wait. Tuhan Yesus memberkati.

Wednesday, October 21, 2015

Secarik Pesan Untuk Putri Tunggalku


Dentuman detak jantung yang seirama dengan langkah kaki putri tunggalku menuju altar, membuatku menitikkan air mata bahagia dengan tangan gemetar. Ia merangkul lengan tanganku dengan lembut, senyum menyapa ribuan tamu yang datang untuk menyaksikan pemberkatan pernikahan. Sesekali ia melambaikan tangan kepada rekan dan teman-teman. Lima langkah sebelum sampai di altar, langkah putriku terhenti dan mengecup pipi keriputku yang tak sekencang dulu. Air mataku belum turun membasahi wajah sampai akhirnya pria yang ia pilih tuk mendampinginya seumur hidup meraih tangannya mengambil putriku untuk berdiri berdampingan di depan pendeta.


            Hai nak, pria yang putri tunggalku pilih untuk mendampinginya seumur hidup.. Aku belum pernah mengenalmu sebelumnya. Namun kehadiranmu dalam hidupnya telah membawa banyak perubahan. Ia jadi lebih lama saat mandi sekarang sambil bernyanyi dengan merdu suaranya. Sesekali ia kebingungan untuk menggunakan gaun yang mana untuk memantaskan diri makan malam denganmu. Meskipun menurutku dan istriku ia adalah wanita tercantik dengan apapun yang ia kenakan. Sebelum kau hadir dalam hidupnya, hari Sabtu dan Minggu hanya untuk aku dan istriku yang kami habiskan bersama. Kini kau pemilik hari akhir pekan dari segala waktu lenggang yang ia punya. Sebaiknya kamu tahu juga bahwa ia rela menghabiskan waktunya berjam-jam di depan laptop hanya untuk mencari resep makanan dan cara belajar untuk masak ketika sudah menikah denganmu. Dan saat pulang larut malam, ia sering sekali membawa senyuman termanis saat menutup pintu rumah usai kau antarkan anakku pulang. Dimana selama hampir seluruh dari umurnya, senyuman itu hanya milikku seorang juga istriku. Teringat saat putri kecilku yang kini beranjak menjadi wanita dewasa sepenuhnya, mendapat juara pertama lomba menulis puisi saat berumur 15 tahun. Ia melemparkan senyuman terindah saat melihatku dan istriku hadir ketika ia menerima penghargaan tersebut. Kami menitikkan air mata karena terlalu bangga atas apa yang ia perbuat dalam hidupnya juga hidup kami.


            Putriku adalah nada terindah dari setiap nada yang pernah dilantunkan oleh penyanyi kelas dunia. Dengan hasil keringat dari jerih payahku sendiri, aku berusaha memberi fasilitas terbaik meskipun dengan kekurangan agar ia mampu menyelesaikan pendidikan setinggi-tingginya. Karena aku dan istriku tak ingin putri tunggalku merasakan susahnya mengais secarik kertas rupiah dengan berlumur keringat seperti yang aku kerjakan selama menghidupinya. Aku hanyalah pria dengan tamatan sekolah tanpa gelar Sarjana. Saat malam mulai berganti pagi, sebelum matahari terbit dan ayam berkokok, aku mengambil Alkitab dan melipat tanganku lalu berdoa untuk keluarga kecil ini. Kiranya Tuhan sudi memberiku umur panjang agar aku punya kesempatan untuk menyeleksi siapa pada akhirnya pria yang pantas mendampinginya seumur hidup. Bahkan jika Tuhan mengizinkan, biarlah pria pendamping putriku nanti akan menjaga dan melindungi putriku lebih baik dari apa yang bisa dan pernah aku lakukan untuknya. Menjaga anak perempuan sungguh mahal harganya melampaui berlian. Tergores sedikit saja maka “harganya turun”.


            Mungkin sudah saatnya kini aku mulai merelakan putri tunggalku untuk mendampingimu seumur hidup, pria gagah yang terpilih. Ini adalah momen mengharukan juga membahagiakan. Dimana aku akan mulai pensiun menjaganya bak pahlawan yang tak pernah lengah untuk mengawasinya. Meskipun aku tahu bahwa putriku yang telah beranjak dewasa akan tetap menjadikanku pahlawan dalam hidupnya. Namun pahamilah nak, ia akan tetap membutuhkanmu juga untuk menjaga dirinya. Dan mengandalkanmu dalam mengambil keputusan dari sebuah pilihan. Atas semua kata yang kutulis dan ucapkan, aku hanya ingin berpesan. Mungkin anak perempuanku bukan satu-satunya wanita tercantik yang pernah kau temui, tapi yakinkanlah dirimu bahwa anakku adalah yang terbaik untuk mendampingimu seumur hidup. Yang telah Tuhan pilihkan jadi tempat terakhir kau berlayar mencari cinta yang abadi. Teguhkanlah keyakinan dalam hatimu bahwa putriku adalah wanita yang mampu membuatmu menjadi pribadi yang lebih kuat dan dewasa setiap harinya. Aku tahu bahwa suatu saat setelah pernikahan ini mempunyai umur yang banyak, perjalanan cinta kalian tidak akan semulus yang sedang dihadapi sekarang ini. Namun tetaplah saling merangkul satu sama lain. Genggamlah tangan kalian bersama dengan berjalan di atas kepercayaan pada Tuhan, bahwa segala sesuatu permasalahan dalam hidup akan kalian hadapi bersama seperti janji kalian di hadapan Tuhan, “I, Shawn Alexander Mendes, take you, Priscilla Marie Bianx, to be my wife. I promise to be true to you in good times and in bad, in sickness and in health. I will love you and honour you all the days of my life.

I, Priscilla Marie Bianx, take you, Shawn Alexander Mendes, to be my lawfully wedded husband, to have and to hold, from this day forward, for better, for worse, for richer, for poorer, in sickness and in health, until death do us part.” Ingatlah suatu hal, when God wants us to grow, He makes us uncomfortable.

 Nak, tolong tetap pertahankan seyum terindahnya seperti saat ia selesai bertemu denganmu. Karna kau tahu aku dan istriku tidak selalu bisa membuatnya tersenyum seperti saat ia masih satu atap dengan kami. Jangan pernah lepaskan genggaman tanganmu pada putri tunggalku sehebat apapun badai permasalahan yang menerpa rumah tanggamu. Karena Tuhan kita selalu memiliki jalan keluar untuk setiap permasalahan yang ada. Ingatlah saat – saat kau ingin mendapatkannya, kau berjuang setengah mati mendapatkan restu dariku. Jadilah penyangga saat ia tak sekuat dulu untuk berjalan. Saat hari-hari sehat kalian habis direnggut usia. Seperti yang telah kulakukan dulu dengan istriku, ketika putri kecil kami sedang belajar untuk berjalan lancar diusianya yang masih belia. Tegur dan berilah nasihat yang baik untuk putriku ketika ia berada pada jalan yang salah. And the most important thing is make her feel you are the “home” of her life. Karena sejauh dan senyaman apapun di luar sana, rumah adalah satu-satunya tempat dimana kita akan kembali pulang. Buatlah ia merasa seperti di rumah saat bersamamu. Dimana ia harus kembali untuk pulang ke tempat asalnya. You have to make her happy, because now my wife and I couldn’t make her happy every single time. Di dekat putriku adalah hal yang selalu berkesan. Ialah asa dan masa depan. Pada putri kecilku yang telah beranjak dewasa aku menaruh harapan, kelak ia mampu berdiri kokoh menjadi istri yang bijak menahan kerasnya batu karang tentang kehidupan. Ya, nak.. Menikahlah dengannya. Aku yakin ia pilihan Tuhan yang paling tepat untukmu sampai maut memisahkan.


            Mungkin aku adalah pahlawan yang tak akan ia lupakan sepanjang hidupnya. Namun aku tak bisa memberikan cinta seperti yang kau berikan padanya, maka aku yakin kamu mampu membuatnya bahagia dengan cinta yang penuh rasa percaya. Pernah kuminta pada Tuhan, bahwa ketika ia jatuh cinta pada seseorang, jatuh cintakanlah putriku kepada laki-laki yang melabuhkan cinta hanya kepadaNya. Agar kelak akan bertambah cinta anakku kepada Sang Pencipta. Juga bukan terjebak pada cinta yang penuh nafsu. Kini aku sudah terlihat seperti istriku yang bercakap banyak menyamai satu buku novel dengan 1000 halaman. Terima kasih, Nak. Telah ikhlas mendengar pesan panjangku ini. Aku kini lebih lega dan berbesar hati merelakan putriku hidup bersamamu hingga kalian menua bersama. 


Untuk laki-laki gagah yang dipilih Tuhan mendampingi putri tunggalku, selamat menempuh hidup baru dan menua bersama 💜

-end-

Saturday, August 15, 2015

Tangan Kanan Yang Kau Sembunyikan

      

   #Playing -> Somebody's Heartbreak - Hunter Hayes



 
Canda tawa yang tak terhitung sudah berapa jumlahnya, kitalah penciptanya. Sebuah hadir yang tak terselip dalam doa, mengisi sebuah kekosongan yang rindu tentang keberadaan. Pemberi warna tiap ruang kosong. Pemancing emosi pada sedikit candaan yang terucap. Bukan yang paling istimewa, namun yang selalu ada.

            Pria canggung yang tak pernah mau menurunkan rasa gengsinya kepadaku, terima kasih pernah berani tuk menyapa. Kamu pernah terasa nyata pada khayalan yang fana. Semangat melabuhkan jari-jari membentuk kata dan saling memberi kabar di layar kaca iPhone. Berawal entah dari bait yang mana pertemanan ini terasa tidak biasa. Jika memang hanya teman, mengapa aku disembunyikan?

            Telah banyak cerita tanpa judul yang kau bagi pada ruang-ruang telingaku sejak pagi hingga pagi lagi. Dipercaya kamu untuk menjadi tempat bersandar saat “kehampaan” pernah berlabuh adalah kegemaranku. Bagai tangan kanan dari dunia yang tidak nyata tapi kau percaya. Semakin hari kita semakin dekat. Hingga aku sendiri tidak mengerti apakah pertemanan rasanya memang seperti ini? Tapi jika memang hanya sebatas teman, mengapa aku disembunyikan?

            Hampir empat bulan menjadi tangan kanan yang tak jarang kamu buat kesal, aku masih berusaha untuk tetap ada di dekatmu agar tidak pergi dan menyesal. Tanpa terpaksa aku memang menyukai hal yang biasa kita lakukan. Having someone to call at night and just talk. Terima kasih pernah hampir setiap dua hari sekali membagi cerita hidupmu padaku saat bulan mulai terlihat hingga matahari mulai terbit. Tapi... Apakah jika memang hanya sebatas teman, rasanya seperti lebih dekat dari pelupuk mata? Dan mengapa aku masih juga disembunyikan... Tahukah kekasihmu bahwa kita sedekat ini?

            Kita hanyalah sepasang teman yang bagai titik kecil dari satu garis panjang entah sebuah kebenaran atau kesalahan waktu dipertemukan. Ketika aku lambat laun menyadari ini bukan hanya sekedar pertemanan yang sewajarnya, aku berusaha mencari Utara tuk memalingkan perasaan. Tapi kamu datang dari selatan menghantam keinginan ku berpaling. Ketika aku melangkah ke sebelah Barat, dari bagian Timur kamu meniup kencang langkah kaki yang sempat enggan bertahan lagi.

            Aku mengerti, kamu memang tak sebaik yang dipikirkan banyak orang. Namun kiranya aku bersyukur dipertemukan denganmu yang selalu ingin memperbaiki diri. Menyenangkan saat bersamamu adalah ketika aku dijadikan prioritas di antara sekian kegiatanmu. Bukan yang utama, melainkan yang selalu kau ingat.

Tidak tahu kapan tepat waktunya, ada beberapa rules yang kau hancurkan sendiri. Maaf lagi-lagi terucap. Aku mencoba tuk percaya lagi. Kesekian kali. Dan masih saja rasanya tak sama seperti semula. Lebih baik kini kita saling berhenti dan berpaling untuk pergi. Kini kau harus memahami... Setiap hati punya batas menunggunya sendiri. Ketika sudah menjejakkan kaki di ujung jenuh, akan mundur tanpa disuruh dan mengalah tanpa diperintah.

Berkatmu, aku menyentuh sebuah kebahagiaan dari pertemuan yang diakhiri perpisahan tanpa perlu melambaikan tangan dari ”pertemanan”. Mungkin suatu saat kehilangan mampu mempertegas arti kehadiran. Apakah butuh pergi untuk sebuah peduli?


Mungkin yang terlepas dari tangan kita adalah sesuatu yang terlalu erat digenggam, dan apa yang hilang dari genggaman adalah kelelahan dari hancurnya sebuah kepercayaan.

Untuk kamu yang (mungkin) masih mampu menyimpan rindunya sendiri, terima kasih sudah menyatakan bahwa mengenalku adalah salah satu hal yang kau syukuri. Aku pun merasa (pernah) cukup bahagia sempat menjadi buku catatan harian yang kau torehkan banyak cerita. Berbahagialah bersamanya disana, entah siapa lagi orang selanjutnya.

Aku yang bagai tangan kanan tapi kau sembunyikan, mungkin sesekali akan melihat semua yang telah berlalu dan tersenyum sambil mengucap "kita pernah sebahagia itu melaluinya". Selamat menyelesaikan proyek akhir, sayang..
          




      With Love, MP♥      

Wednesday, May 20, 2015

Salah Satu Dari Mereka, Pergi.

Hampir berakhirnya minggu ketiga pada bulan lima ditahun ini memberi kabar duka untuk kawanku di seberang kota. Mendung awan malam menyiratkan kesedihan tentang sebuah kepergian. Ia ditinggal salah satu sahabat terbaiknya untuk kembali pada Pencipta manusia. “Oh Tuhan...” gumamku dalam hati saat mendapat kabar duka ini dari kawan baruku. Bagaimana bisa aku ikut merasa kehilangan meski mengenalpun tidak pada sahabat terbaik kepunyaan kawan baruku ini. Semakin ikut pilu dinding hatiku saat kawan baruku berkata “Ia yang terbaik yang kupunya. Aku bangga memilikinya”. He lost his best friend.......
           I'm not fukcin* fine. He said.

Ada keceriaan mewarnai intonasi suaranya saat bercerita beberapa sahabat terbaik yang ia miliki sejak masih duduk di bangku SMA. “Kami memang aneh. Tapi memiliki mereka itu adalah suatu kebanggaan. Sekarang kami lagi berjuang di jalan masing-masing. Ada beberapa planning ke depan yang mau kita jalanin, entah kapan tapi pasti ada waktunya. Sayang mereka semua. Kami ini seperti keluarga yang susah senangnya selalu bersama.”Mendengar kalimat sesederhana itu pun membawa imajinasi ku tuk bermain hingga membayangkan bagaimana indahnya sebuah persahabatan yang susah senangnya selalu bersama, bahkan beban hidup pun terasa ringan saat mereka ada. Canda tawa yang tercipta saat mata dapat bertatapan dengan mata, bukan hanya pada teks dalam ponsel pada layar kacanya. Disitulah terukir kenangan yang tidak akan pernah pudar meski jarak yang memisahkan begitu besar.

Salah satu dari mereka berenam kini pergi tanpa permisi. Mungkin sebelumnya sudah meninggalkan pesan namun tak terhiraukan. Sudah ada tanda namun tak terasa. Hingga saat waktuNya telah tiba untuk memanggil salah satu dari mereka, kehilangan itu terlalu luar biasa untuk dirasa. Terlalu berharga momen bersama sahabat terhebat untuk mengingat hal yang membawa kepedihan. Untuk pertama kali aku merasakan kehampaan pada pria yang biasanya mampu membuat tawa, namun kini hinggap pada sebuah kesedihan yang bernama duka. Ada kehilangan mendalam dihatinya. Untuk menguatkan tubuh berjalan dengan tegap saja mungkin takkan sanggup. Aku hanya mampu membawa doa untuk keluarga yang ditinggalkan, doa untuk teman-teman yang merasa kehilangan, serta doa untuk sahabat yang pastinya luar biasa larut dalam kesedihan akan sebuah kepergian. Kepergian yang tak hanya sementara, melainkan selama-lamanya.



Untuk kamu, teman baruku di seberang kota...You’ve to be stronger, man. Aku tahu bahwa selalu ada sedih pada setiap kepergian. Namun kini salah satu sahabat terbaikmu sudah berjalan menuju tempat terindah bersamaNya. Yang suatu saat nanti akan kau susul ia di tempat itu. Teruslah berbuat baik, kawan. Teruslah menabur kebaikan agar engkau menuai kebahagiaan. Bukan hanya untukmu, namun juga untuk semua yang merasa kehilangan. Those special memories of him will always bring the happy smile for your life. He want you to be stronger than before without him on Earth. Maybe you can’t hold his hand again, maybe you can’t see his happy smile again, but just believe, man! He would be always stay in your heart whenever you will go, okay?

Namanya tak akan hanya terukir pada batu nisan yang tanahnya masih basah diguyur hujan. Tapi tiga kata pada namanya juga tinggal dan menetap dilubuk hati terdalam milikmu dan kerabat serta keluarga yang ditinggalkan. Kirimlah doa sesering mungkin untuknya saat rindu dihatimu menerpa dengan hebat. Sering-seringlah bersujud dalam doa meski harus tertatih saat mengungkapkan isi hatimu pada Yang Maha Kuasa. Berdukalah namun jangan terlalu lama. Bersedihlah tanpa harus terlena pada hati yang masih tidak rela. Biarkan sahabat terbaikmu berjalan dengan tenang sampai di sisiNya, tanpa harus mengkhawatirkan siapa-siapa saja yang ia tinggalkan dengan tidak menitipkan sepatah kata. Ini bukan keinginannya untuk pergi meninggalkanmu dan yang lain. Percayalah ia sudah pergi diwaktu yang tepat. Sesuai dengan waktuNya. Tidak ada yang pernah siap untuk ditinggalkan. Maka belajarlah untuk tetap tegar menjalani hidup yang tak akan pernah memberi kabar kapan kita akan pergi meninggalkan dunia yang fana ini.

   
When someone you love becomes the memory, the memory becomes a treasure. So keep it!



    With Love, MP♥  

Thursday, March 5, 2015

Karena Kamu.

Sejuknya pagiku dihiasi semangat baru saat melihat namamu tertera pada layar handphone milikku. Teringat aku pada hari ini bahwa.. Usiamu bertambah lagi satu tahun.

Maaf bila masih terekam jelas dalam ingatanku tentang kita beberapa bulan yang lalu. Masih membekas perbincangan saat itu yang membuat hatiku sedikit terluka. Pagi sejuk yang dibumbui awan gelap akhirnya membuat aku semakin dalam hanyut pada saat pertama kali diizinkan Tuhan menatap indah wajahmu. Tanpa sengaja memori ingatanku secara cepat memberi gambar yang lebih jelas, bahwa pertemuan pertama itulah awal dari segala cerita yang tanpa judul ini berlayar. Ada tawa yang sudah lama tidak kulihat dari sosok yang baru. Kita membicarakan sesuatu yang sempat membuatku tak berkutik karena tawamu semakin indah dalam pandanganku. Maaf bila sampai saat ini, ternyata kamu masih jadi yang pertama memberi warna pada hariku setelah sebelum kamu ada yang mampu membuatku kecewa lebih dalam.

Karena kamu, aku mengenal lagi arti dari cinta yang baru.

Karena kamu, aku kembali menyadari bahwa hati yang patah akhirnya mampu jatuh cinta lagi.

Karena kamu, dalam terbaring sakitpun aku tetap rela mengasihi sosok seperti dirimu.

Karena kamu, Tuhan mengizinkan aku untuk mencintai lagi lelaki baru.

Aku dan kamu mungkin tidak pernah meminta untuk saling dipertemukan. Tapi inilah cara Tuhan untuk mendewasakan aku dengan sukarela melalui sebuah luka. I wish that I could have said all that was in my head, but I can't....

Dan masih pada rasa yang sama. You still make me smile even you are the reason why I am sad. Proses menuju titik terakhir pada sebuah penantian terasa buntu ketika hatiku berhenti dikamu. Namun aku tertegun ditampar sadar bahwa akan ada saatnya ketika kita melihat ke belakang, menatap nanar pada proses luka adalah hal yang sungguh patut untuk dikenang. Bila nanti aku pergi, berhentilah untuk mencari. Karena sesungguhnya sudah lama aku bisikkan di dalam doa, bahwa aku tidak pernah berpura-pura pada kejujuran hati yang ada. Meskipun terkadang sulit dimengerti apa yang sedang Tuhan kerjakan dalam hidupku, aku selalu berbaik sangka pada rencana-Nya.

Yang terakhir, karena kamu, aku akhirnya kini lebih memilih untuk menikmati kesendirianku hingga tak ada lagi namamu memunggah ceritaku pada ciptaan-Nya yang baru.


Selamat bertambah tua, kamu. Terima kasih untuk selalu berharap yang terbaik dalam hidupku didunia ini.

Hiduplah Dengannya.

Sam Smith - How Will I Know  Ketika puing-puing kenangan yang tersisa masih berputar, tinggal aku yang meratapi bekas jeja...