Friday, July 22, 2016

Hiduplah Dengannya.


Sam Smith - How Will I Know 


Ketika puing-puing kenangan yang tersisa masih berputar, tinggal aku yang meratapi bekas jejak langkah kepergiannya. Mungkin sudah dua tahun kami sepakat berpisah, tujuh bulan terakhir benar-benar putus tanpa sepatah kata. Setelah sekian lama tak hadir pada hariku yang ceria, tiba-tiba malam itu angannya meraih ragaku lewat mimpi. Tak ada tanda sebelumnya mengapa ia datang begitu nyata melalui mimpi yang seperti angan. Kupikir takkan ada lagi temu dalam bentuk apapun. Namun bukan ternyata aku salah, karna kadang mimpi seperti tampak bercanda. Saat dimana mimpi itu bagai nyata yang ingin kusegerakan berakhir, tapi kulit di bawah jemariku lebih dulu menyentuh hangat tengkuk lehernya. Hangat. Gugup. Penuh kasih juga takut. Aku harus mendongak agak ke atas untuk meraih tatapan tajamnya yang masih gemar kupandang. Memang bukan bagian kesukaanku lagi setelah terakhir kita berpisah. Namun siapa sangka ternyata kehadirannya yang tak terduga mengundang senyum pada ujung bibirku..


Aku sedikit lupa ke arah mana mimpi itu melangkah. Namun yang pasti masih terasa hangat rangkulan tangannya yang mengundang rasa nyaman. Di balik keraguan bahwa ini harus lekas berakhir atau tidak, aku menikmati kehadirannya... Sedikit tawa entah membahas apa, yang terekam sampai kusadar dari mimpi hanya tatapan matanya yang menyimpan setumpuk rindu untukku. Jemarinya yang semakin dingin menyentuh bibirku dengan tatapan penuh khawatir. Bibirnya seolah menahan hebat pertanyaan yang segera ingin dilontarkan, “adakah setelah aku hidup dengan wanita baru selain kamu, bibir manis ini disentuh oleh lelaki lain?” juga “setelah bukan aku lagi yang memperjuangkanmu untuk jadi teman hidupku, sudah berapa banyak hati yang mencintaimu lebih baik dariku?” Ia terus melakukan tatapan tajamnya hingga aku rasanya ingin membuat waktu tetap berhenti pada saat itu. Lembut jemari tangannya merapihkan helai-helai rambutku yang berterbangan dihempas angin malam. Membuat suasana semakin hangat dan dada ini terasa panas karna terlalu rindu juga ragu. “Aku harus terus hidup dengannya, sayang...” katanya. “Aku mengerti. Karna takkan ada cinta sehebat milikku yang pernah kau terima, sayang.... Hiduplah dengannya, meski aku adalah pelajaran yang akan selalu mudah kau mengerti kehadiranya dan paling kau sulit pahami kepergianya. Terimalah itu sebagai hadiah terhebat dari Tuhan yang sempat kau miliki lebih dari setengah windu”.  Lalu ragaku seperti dipaksa bangun oleh detik-detik masa kini yang tak rela jika aku terlalu hanyut akan rindu lelakiku dimasa lalu. Pada kenyataannya, ia masih merindukan aku yang sampai kapanpun akan selalu menjadi hal terlarang dalam hidupnya untuk ditemui. Karena aku adalah pemberi kasih terbaik dalam hidupnya. Saat-saat buruk yang hanya warna hitam melengkapi harinya, aku pernah mencoba masuk dan tak sekedar melukis warna putih pada dinding hidupnya yang kelam. Aku menumpahkan banyak warna pada tiap harapannya yang pupus. Aku tak hanya memaksanya melompat pada tebing tinggi, tapi juga terjun bersamanya dimana pada dasar itu menyediakan sejuta harapan baru. Ia tak pernah sendiri ketika aku dan dia adalah kita. Kesatuan yang memiliki banyak beda. Aku terlalu jauh menuntunnya ke depan hingga kita lupa, bahwa ternyata.......ada yang tak mampu ditolerir dalam perbedaan kita.


Kini telah banyak hari-hari baru setelah kita akhirnya sungguh berpisah. Cintamu (mungkin) kini sudah hanya satu dalam sebuah ikatan. Namun kesendirianku dimasa kini bukan untuk meratapi kepergianmu yang sudah lama. Tapi untuk memperbaiki diri agar tak hanya baik di hadapan manusia, tapi juga Ia yang menciptakan aku dan dunia. Hiduplah dengannya, kau sendiri yang pernah bersumpah bahwa aku adalah pelajaran terbaik yang paling engkau sesali kepergianya. Aku adalah tujuan yang kau harap hilang, namun takkan pernah berlalu sampai sujudmu di tengah malam berlinang air mata. Hanya aku yang tertentang jelas saat kamu memejamkan mata, sedekat apapun kau dengannya. Dan selama kau masih mengenal namaku, kisahmu dengannya akan selalu terasa tawar.


With Love, MP♥

Sunday, May 22, 2016

Susah Bersama Tuhan


Pada bagian kosong di sudut ruang kamar, aku bagai partikel-partikel yang bergerak bebas dalam kehampaan. Seperti dipaksa untuk tetap tunduk pada kerasnya hidup. Bagai sengaja dibuat jauh dengan bahagia. Rasanya ingin berontak kepada takdir. Terjebak dalam hidup yang gelap bagai bernafas tanpa hasrat dan keinginan. Tampak buta seperti otak tanpa pengetahuan. Kesedihan ini lahir dari terpampang jelasnya hidup mewah yang dilapis ‘kebahagiaan’ orang-orang di sekelilingku. Mereka terlihat baik-baik saja tanpa harus menyisihkan waktu untuk berdoa. Aku yang tak pernah berhenti menyisihkan waktu kurang dari satu jam untuk berbincang dengan Tuhan, justru punya bertubi-tubi kesusahan. Namun ada hal yang tak diketahui oleh mereka makhluk pecinta kenikmatan duniawi. Firman Tuhan berbisik pada telingaku, bahwa kebahagiaan orang fasik adalah semu. Jika aku memperhatikan, maka tempat ia sudah tidak ada lagi. Tuhan bilang orang rendah hati akan mewarisi negeri dan bergembira karena kesejahteraan yang berlimpah-limpah. Tangisku terus jatuh karena beratnya cobaan dalam hidup yang selalu ada. Namun semua terasa mudah saat kesusahan itu kulalui bersama-Nya. Pada perjalanan hidupku yang sulit, Tuhan memberi kekuatan dengan kata-kata “Lebih baik yang sedikit pada orang benar dari pada yang berlimpah-limpah pada orang fasik. Sebab tangan Tuhan menopang orang-orang benar”. Tujuan hidup memang bukanlah bahagia dengan harta berlimpah di dunia. Bukan pula hanya fokus pada kesengan yang fana. Tapi salah satu tujuan hidup kita adalah takut kepada Allah dan menaati-Nya.

Sedih itu tak jarang menyapa hariku. Ketika manusia lain dapat berbahagia dengan dunia mereka, aku diingatkan kembali oleh roh kudus bahwa tujuan kehidupan ini, sebagaimana dirancang Allah ketika Ia menciptakan manusia pada mulanya, tujuan hidup manusia adalah mempermuliakan Allah dan hidup di dalam anugerahNya untuk selama-lamanya. Memuliakan Allah dengan menghormati juga menaati-Nya, memusatkan pandangan kita di surga kelak, dan mengenal Dia secara intim. Aku ingin menikmati anugerah Allah dengan mengikuti rancangan-Nya bagi kehidupanku, sehingga memampukan aku untuk mengalami sukacita yang benar dan yang abadi - kehidupan berlimpah yang Ia rencanakan bagi diriku. Bila diibaratkan dengan kalimat, jika aku tidak memiliki tujuan hidup yang jelas di dunia ini sama saja seperti seseorang yang berlari dalam kegelapan di tengah hutan, tanpa arah yang jelas dan kemungkinan terbesar akan terdampar di tempat yang tidak diharapkan. Lebih baik aku berjalan dalam kesusahan bersama Tuhan dari pada harus tertawa di atas kemewahan tanpa mengenal-Nya. Sebab menyenangkan hati Tuhan adalah inginku. Dipelihara-Nya aku dalam setiap detik yang berlalu. Saat malam berganti pagi, kasih-Nya selalu baru. Ia terlalu sempurna untuk menyayangiku.

Tuhan dengan lantang mengingatkan aku bahwa kiranya kasih dan setia itu tidak meninggalkan aku. Ia memintaku untuk mengalungkannya dan menuliskannya pada loh hatiku. Maka dari itu aku akan mendapatkan kasih dan penghargaan dalam pandangan Tuhan Allah serta manusia. Tuhan ingin aku agar percaya kepada-Nya dengan segenap hatiku dan melarangku untuk percaya pada pengertianku sendiri. Aku harus mengakui Dia dalam segala tingkah lakuku, maka Ia sendiri yang akan meluruskan jalanku. Kiranya aku memuliakan nama Tuhan dengan hartaku dan dengan hasil pertama dari segala penghasilanku, maka lumbung-lumbungku akan diisi penuh oleh-Nya sampai melimpah-limpah, dan bejana pemerahanku akan meluap lengkap dengan air buah anggurnya. Tuhan tidak ingin aku menolak didikan-Nya sebab Ia memberi ajaran kepada yang dikasihi-Nya seperti seorang ayah kepada anak yang disayangi. Dalam sadarku Tuhan berkata “Hai anakku, janganlah pertimbangan dan kebijaksaan itu menjauh dari matamu dan peliharalah itu, maka itu akan menjadi kehidupan bagi jiwamu, dan perhiasan bagi lehermu. Janganlah takut kepada kekejutan yang tiba-tiba atau kepada kebinasaan orang fasik, bila itu datang. Karena Tuhanlah yang akan menjadi sandaranmu, dan akan menghindarkan kakimu dari jerat” (Amsal 3).

Berjalan bersama Tuhan berarti memikul salib. Yang berarti menderita karena taat kepada Kristus. Hidup Kristiani ialah hidup yang melayani dengan berkorban. Tidak hidup untuk diri sendiri juga berani untuk menolak dengan berkata “tidak” pada diri sendiri dan mengatakan “ya” kepada Allah. Dengan jelas kita dapat melihat betapa Yesus dengan penuh kesadaran dan ketaatan menjalani hidup seperti memikul salib. Walau penuh penderitaan dan penghinaan, Ia mendapat kemuliaan Allah melalui kebangkitan-Nya. Dalam ketaatan-Nya ia meraih kemenangan dan hidup yang sejati. Kelak aku akan berbahagia sebab hikmat dari Tuhan turun atasku. Keuntungan itu melebihi keuntungan perak dan hasilnya melebihi emas. Lebih berharga dari pada permata; apapun yang kuinginkan tidak dapat menyamainya. Di sebelah kanan ada panjang umur serta di sisi kiri ada kekayaan juga kehormatan. Kini sedih dan pilu yang melanda mudah pergi dalam ingatanku. Sebab tak ada yang lebih berharga dalam hidup ini selain berjalan bersama-Nya dalam kesusahan dari pada bermegah tanpa mengenal nama-Nya.


Dear my Jesus.. Thank You for never give up on me. Thank You for  Your love, thank You for being my rock and foundation. You are my one and only.




 With Love, MP♥

 

Sunday, April 24, 2016

Semakin Jauh

Now Playing - Austin Mahone "Someone Like You"



Kepada langit gelap yang diselimuti awan abu-abu, aku menatap ke atas melalui atap rumah yang transparan. Tidak ada putih awan yang  bermain di atas. Hanya kekelaman yang senang bersinggah disana hampir 30 menit terakhir setelah letihku bisa dihempaskan ke atas tempat tidur di kamarku yang nyaman. Aku tidak sedang membahas hujan deras yang sebentar lagi turun. Hanya begitu terkesima bahwa sore ini aku dan semesta punya suasana hati yang sama. Jauh dari kecerahan yang bisa membuat langkah ini mudah untuk maju ke depan. Saat ini rasanya lebih nyaman mengumpat di balik tembok berwarna gelap agar tak terlihat. Pandangaku sedang tak mampu mencari arah. Petunjukku hilang entah kemana.

Kini hidupku sedikit (lebih banyak) sulit untuk menghadapi kenyataan. Aku pun tidak tahu apa aku terlalu bodoh untuk berusaha menyimpan perasaan yang entah akan terbalaskan atau sebaliknya. Meski sejujurnya aku siap gila bila harapan-harapan ini harus musnah karena bertepuk sebelah tangan. Mungkin jarak dimana aku dan dia berpijak di bawah kolong langit yang sama terlalu luas membentang. Perbedaan musim di negara aku dan lelaki itu membuat keinginan hati ini semakin tahu diri. Bahwa dua hati yang gemar bertukar cerita meskipun perbedaan waktu hampir 12 jam sungguh sulit untuk bersama. Masih aku pelajari sampai detik ini, benar atau tidaknya hanya jarak yang menjadi ‘pemisah’ pada kebersamaan kita seperti biasanya. Masih beratkah beban hidup yang harus ia pikul disana. Tidak hanya belasan kali aku ‘berbicara’ pada Tuhan tentang bahagiaku yang rasanya berhenti pada segala sesuatu tentang dia. Masa lalu lelaki itu lebih dari pengingatku untuk mampu melalui hari dengan rasa percaya. Percaya bahwa hal terberat dalam hidup ini selalu dapat dilalui. Kerinduannya untuk pulang ke Jakarta menjadi benih harapan yang kini tumbuh subur dalam hatiku agar sabar menantinya tiba. Beruntungnya, ‘percakapan’ ku dengan Tuhan terlalu sering hingga aku percaya bahwa akan ada saatnya segala yang kunanti akan berbuah indah. Meskipun hasil akhirnya jauh dari yang selama ini aku bawa di dalam doa.

Sabarku tak akan menjumpai batas waktu sampai hari dimana ia akan kembali. Walau semakin jauh kurasakan keberadaannya, penantianku bukan lagi tentang betapa ingin aku memeluknya erat, tapi sebaris kalimat “I’m fine here, you don’t need to worry about me’ sudah sangat melegakan hatiku yang (hampir) lelah menanti. Aku tampak bagai lilin yang sedang setia menerangi si gelap yang begitu lemah. Mungkin semesta tak mendukung, maka dikirimnyalah angin kencang untuk mematikan api milikku. Jika aku memang harus pergi, baiknya gelap itu tak ada lagi karena telah berani menyongsong terang. Agar aku tidak sia-sia menjadi lilin yang meleleh dibakar kesetianku sendiri.


Dikabarkannya aku melalui mimpi semalam perihal keadaan sang pria, bahwa kesetiannya di negeri paman Sam masih tetap sama dan selalu bertambah. Yang menyiksa batinnya hanya karna ia tak mendapatkan hak untuk bertemu denganku dan melepas rindu. Itu membuatnya merasa semakin jauh dariku. Duka itu memang menyayat hatiku. Namun setidaknya ada cinta bernasib malang yang sudah juga sedang ia usahakan agar tidak padam. Kini yang berbahaya adalah daya ingatku yang begitu hebat merekam semua perjalanan tanpa ada lupa. Aku tetap menyukai itu meski nyawa dalam ingatanku semakin berbahaya.





With Love, MP♥

Wednesday, January 6, 2016

Kepergian Akan Membawamu Kembali Pulang.

NOW PLAYING - DEPAPEPE "TIME".


Kepada cahaya yang hampir padam di atas awan telah kupanjatkan sepatah dua patah kalimat kepada Tuhan. Rasanya aku ingin menangisi sebuah kepergian yang akhirnya akan membuat ia kembali sesekali. Langit semakin abu-abu lalu gelap meyelimuti sore itu.



Hari pertama tahun 2016. Tatapanku membeku pada tumpukkan barang yang rapih di dalam kardus-kardus cokelat berisi baju, buku, sepatu juga barang berharga lainnya yang memiliki cerita. Aku diam dan termenung haru di hadapan semuanya. 



Cukup berat untuk melepaskan sesuatu yang sudah lama menetap. Tidak hanya menjadi halaman terbaik untuk menuliskan kisah cerita tetapi juga sebagai rumah yang selalu membuatku ingin kembali pulang ketika kehadirannya datang. Memasuki tahun keempat mengenal ia dengan baik adalah cara Tuhan menganugerahkan “karya”-Nya berperan dalam hidupku. Ia menjadi tempat ternyaman untuk bersandar setelah keluarga yang kupunya. Tuhan  begitu apik membiarkan luka yang dibuat orang-orang terdekatku hingga akhirnya aku (lagi-lagi) menemukan satu diantara yang tulus untuk menjadi teman hidup.


Kita adalah perempuan yang dipertemukan Tuhan atas luka yang sama dimasa lalu. Sebuah cerita yang nyata lebih dari lucu. Kita adalah dua dari jutaan manusia yang pernah dibenci juga dimaki atas kesalahan yang mereka buat sendiri. Tidak ada waktu untuk membalas kebencian orang-orang disekitar karena kami terlalu sibuk belajar mengasihi meskipun dibenci. Ketidak mampuan melukis dengki dalam hati membuat kita semakin dekat sebagai sahabat. Kita pernah kehilangan orang yang telah mencapai puncak tertinggi namun lebih memilih untuk beranjak pergi. Namun lagi-lagi kami percaya bahwa Tuhan tak hanya mendengar kepiluan hati ciptaan-Nya dari kehilangan. Tapi Dia juga berjanji, akan mengganti bentuk apapun yang telah "pergi". Kini semua terbukti setelah hampir satu tahun menyendiri, banyak kebahagiaan berkelana dari luka yang terlalu luas membentang cukup lama. We just need to smile, things are going to work out. We may not see it now, but we're being directed to a much greater happiness.

Selayaknya detik yang entah sampai kapan berpihak. Kita hanya mampu menikmati kebersamaan selama dapat berbagi waktu. Sebelum akhirnya kerinduan datang tanpa ada lagi pertemuan. Aku selalu percaya setidaknya ada lima orang terbaik di dunia selain keluarga yang Tuhan taruh dalam hidup kita untuk menjadi teman rasa keluarga, yang tulus serta setia mendampingi ketika berada di dasar terendah, dan saling mengingatkan untuk tetap merendah saat mencapai puncak tertinggi. Dan aku bersyukur Myta salah satunya. 

Tidak sedikit waktu yang telah berlalu ketika kita berbagi cerita atau hanya sekedar makan bersama. Teruslah lelap dalam bahagia di luar kota Jakarta. Banyak mimpi dan cita-cita yang harus diraih ketika kau memilih untuk pergi meninggalkan aku, Icha, juga yang lain. Aku selalu menenangkan diri dengan bergumam dalam hati “kepergian ini akan membawanya kembali pulang”. Dan sore itu di bawah awan abu-abu yang hampir pekat, hujan pun turun dengan lebat. Sedikit pilu yang disertai kilat petir menyambar kenyataan bahwa bulan pertama di tahun 2016 akan diawali kepergian seorang sahabat. 


Meskipun kita masih tinggal di kolong langit yang sama, rasanya tetap saja beda. Cepatlah kembali pulang karena yang merindukanmu tidak hanya aku. 








With Love, MP♥

Tuesday, December 22, 2015

Kau Lebih Indah Dari Ucapan Kata


Hari - hari berlalu sama seperti biasanya
Hanya saja lebih indah karena engkau selalu ada
Sebelum matahari terbit kau sudah membuka mata
Untuk memulai hidup yang penuh suka dan duka.

Mom..
Engkau selalu berarti untukku tak hanya dihari ini
Kau seperti doa dari setiap hati seluruh anak di dunia
Yang selalu kuat dalam cobaan dan memberiku cermin agar mampu melawan derasnya air mata yang turun bagai hujan.

Kau adalah inspirasi yang berharga dari terbentuknya kehidupan.
Memapahku supaya tegar menghadapi rintangan.
Selalu percaya Tuhan dan tetap membangun setumpuk kesabaran
Kesuksesan yang kuraih adalah segelintir doa yang kau awali dalam keyakinan
Engkau memang indah lebih dari sekumpulan awan
Cinta kasihmu tak pernah padam selalu tumbuh dalam keabadian.



Ini aku, yang menyebutmu sebagai pahlawan sepanjang usia.
Telah menahan kami selama sembilan bulan dan menderita
Adalah hal yang tak mungkin dilakukan oleh manusia biasa
Kau lebih sempurna dari setiap kata yang dapat kau baca.


Ma..
Berjuta maaf tergeletak lemah atas setiap air mata yang jatuh di wajahmu.
Untuk setiap keringat yang bercucuran demi menyambung kehidupan, kau rela menyimpan dalam-dalam sebuah kesedihan.
Aku begitu ingin agar engkau mampu kubahagiakan.
Meski tak akan ada setitik dari usahaku yang menggantikan.

Mom..
Kau adalah detak jantung yang tak pernah berhenti berdegub dalam hidupku.
Tempatku mengadu tentang kehidupan  yang membingungkan.
Juga menjadi pilar rumah tangga yang kokoh meski sering diterpa kekecewaan.
Dalam senyum kau basuh letihmu, sedari subuh hingga larut malam derita pun tetap kau simpan.

Bukan segumpal kilau berlian yang kau harapkan dalam sukses yang kuraih.
Juga bukan setumpuk uang yang kau minta atas keberhasilan yang ada.
Tidak dengan sebatang perunggu kau minta dibahagiakan.
Bahkan sering kali kau memohon maaf karena merasa  belum membahagiakan aku.
Perlu kau ketahui, engkaulah KEBAHAGIAANKU.

Cintamu takkan terhapuskan oleh derasnya ombak lautan.
Walau amarah sang Bumi menghanguskan negeri, kasih sayangmu masih tak terkalahkan.
Mom.. Tetaplah kuat dan berdiri kokoh sebagai ciptaan Tuhan yang lebih dari kata indah.
Cantik hatimu adalah ceminan pelangi yang menari setelah hujan.
Aku menyayangimu sejak dulu, sekarang, bahkan sampai tak lagi dapat menatapku dengan mataku.

Happy Mother's Day wanita-wanita yang di kepalanya ada cahaya! :*

* Terinspirasi oleh wanita-wanita kuat dan tangguh dalam hidupku!
Selamat hari Ibu untuk Mami tersayang (Anna Sinaga),
untuk Mama tersayang (Esther Sinaga) &
Tante Oshie (Ria Sinaga) juga untuk  seluruh 
Ibu, Mama, Mami, Bunda dimanapun kalian berada.
God bless and spread the LOVE!

We may not ever know all the jobs that you have done. But as many as you've had, can I take another one?

We thank you for all your hard work in our life. And so from here and out let us take care of you. 


With Love, MP♥  

Friday, October 23, 2015

Hal Yang Patut Direnungkan



Aku belumur keluh kesah yang sia-sia selama tidak mendapatkan apa yang kuharapkan. Tanpa dibius rasa tertegun akan berkat-Nya yang berlimpah aku masih bersungut-sungut. Lupa mensyukuri segala yang Ia berikan tanpa kuminta, seperti hembusan nafas misalnya. Kadang aku merasa bahwa berjalan bersama Tuhan Yesus terlalu berliku dan panjang tiada akhir. Tanpa aku sadari, setiap aku kehausan aku diberi-Nya “air”. Tanpa biaya aku diberkatinya meski tidak berlimpah atas kaca mata manusia. Seharusnya aku merenungkan ini terlebih dahulu. Dengan jumawa aku menyalahkan Tuhan atas keadaan yang kuterima ini. Lagi-lagi tanpa sadar aku menggantung Iman yang kumiliki sejak aku lahir.

Rasanya seperti begitu lama aku ada di gurun ketidak mewahan. Tak memiliki sesuatu tuk dibanggakan, tak ada prestasi yang bisa kuperlihatkan, tak ada harta untuk memberi lebih kepada orang-orang. Ini begitu perih, Tuhan. Aku bagai telapak kaki yang terlupakan. Tanpa aku sadari bahwa sejak aku lahir, Kau telah menjadikan aku biji mataMu! Lebih dekat dari urat nadi yang berdenyut dalam tubuhku. Engkau menjadikan aku layak lebih dari sepantasnya, Bapa. Lagi-lagi aku memberi pertanyaan yang tidak pantas Kau dengar dalam hatiku. “Mengapa aku, Tuhan? Mengapa harus aku yang merasakan ini padahal Engkau tahu aku begitu setia mengikut Engkau?” sungguh hal yang patut aku renungkan sebelum mengucap ini. Seharusnya aku lebih meresapi waktu selama berjalan dengan Tuhan tanpa mengeluh. Karena dengan itu aku hanya mampu menyerah di bawah kaki-Mu, Tuhan. Sometimes, God's planning and timing is not just about something we have to do until we get what we want. But about the process of becoming what God's wants us to be.


Bagai dikuliti oleh kemiskinan hati, aku berusaha tidak mengecewakan Engkau. Setiap kali aku ingin mencoba “kembali”, roh jahat itu menyelimutiku tanpa sudi merelakan aku kembali suci. Inilah aku Bapa, anak-Mu yang ingin pulang dan berusaha untuk tetap setia. Pilihan-Mu terkadang membuat batinku sakit, Tuhan. Tapi kini aku mau menerimanya sebagai hadiah yang kau bungkus dengan masalah dan suatu saat aku mendapatkan anugerah yang terindah. Hanya melalui Engkau, bahwa Yesuslah satu-satunya yang layak dipuji dan sembah. 

Didikan-Mu memang keras Bapa. Namun dengan inilah Kau menjadikan aku alat yang hebat. Hanya Engkaulah Yesus dan Juru Selamatku. Kini dengan sadarku, aku percaya dalam nama-Mu bahwa bukan karena aku mengharapkan sesuatu yang indah akan Kau beri berlimpah-limpah dihidupku, tapi karena aku tahu selara apapun duka yang terasa bergejolak di dalam jiwa, Engkau tetap berdiri di sebelah kananku untuk merangkul tangan ini yang berlumur dosa. Aku akan setia pada-Mu sebab aku percaya, Kau rela memapahku yang lemah tesisa getah dosa. Seharusnya aku malu untuk kembali karena Engkau yang empunya Kerajaan, selalu sudi menunggu anak-Mu pulang. Namun Engkau Bapa yang sungguh Mulia Kasihnya. Dibaluri-Nya aku dengan darah tidak bersalah. Hal ini harus direnungkan. Entah aku berada di Gurun atau Lembah. Hamparan bukit Sion ataupun Laut Mati, dalam gelap maupun terang, saat sesak atau lengang, Yesus berjanji tetap ada bersamaku dan aku telah percaya akan hal itu.

Ada beberapa  dari mereka yang tidak mengetahuiku dengan baik, menyimpan dengki dalam hatinya. Tapi aku bersyukur Engkau tidak memandang rupaku tapi mengindahkan hatiku, Bapa. Aku telah kau bentuk seraya bersuka cita, manusia yang sempurna tanpa bercacat cela.


Lubuk hatiku pernah menyimpan luka dari seseorang yang tiba-tiba pergi meninggalkan. Tapi aku meneladani-Mu, yang pernah ditinggalkan sendiri namun tetap mengampuni.


Biarlah aku kini boleh tersungkur dengan bangga memuji dan memuliakan nama-Mu dalam sisa hidupku. Hingga tiba saatnya nanti, kiranya aku boleh menetap dalam Kerajaan-Mu, Tuhan. Biarlah aku memantaskan diri selama aku masih memiliki waktu di dunia ini.

Dan ada satu hal terakhir untuk direnungkan oleh orang-orang yang percaya Tuhan. Pernah kubaca sebuah postingan melalui media sosial. Adakah satu diantara kita yang sudah bertanya mengenai harga Oksigen? Kurang lebih Rp. 25.000/ltr. Dan pernahkah kita menanyakan harga Nitrogen di Apotek? Yang kurang lebih harganya berkisar Rp. 9.950/ltr. Tahukah kita bahwa dalam satu hari manusia menghirup 2.880 liter Oksigen & 11.376 liter Nitrogen?

2.880 x Rp. 25.000 = Rp. 72.000.000,-
11.376 x Rp. 9.950 = Rp. 113.191.200,-
Jadi total biaya untuk bernafas 1 hari adalah Rp. 72.000.000 + Rp. 113. 191. 200 = Rp. 185.191. 200,
Bila sebulan totalnya menjadi 30 hari x Rp. 185.191.200 = Rp. 5.555.736.000,-
Bila dalam satu tahun maka totalnya adalah 365 hari x Rp. 185.191.200 = Rp. 67.594.788.000,-
Jadi, jika kita hargai dalam jumlah Rupiah, maka Oksigen dan Nitrogen yang kita hirup mencapai lebih dari Rp. 185.000.000/hari, Rp. 5.500.000.000/bulan dan Rp. 67.500.000.000/tahun.

            Barangkali manusia terkaya di Bumi pun akan kesulitan untuk membiayai nafas hidupnya. Betapa besar kasih karunia Tuhan dalam hidup kita meski hal terpenting untuk hidup pribadi kita saja sering kali kita abaikan dalam bentuk syukur. The things you take for granted, someone else is praying for. While you wake up today, someone is taking their last breath. Thank God for another day, don't waste it. Masihkah kita mau menuntut sesuatu yang Tuhan belum berikan dalam hidup kita? Only remember one thing, God’s timing is always perfect. Just need a little patience and faith, but it’s worth the wait. Tuhan Yesus memberkati.

Hiduplah Dengannya.

Sam Smith - How Will I Know  Ketika puing-puing kenangan yang tersisa masih berputar, tinggal aku yang meratapi bekas jeja...