Thursday, March 5, 2015

Karena Kamu.

Sejuknya pagiku dihiasi semangat baru saat melihat namamu tertera pada layar handphone milikku. Teringat aku pada hari ini bahwa.. Usiamu bertambah lagi satu tahun.

Maaf bila masih terekam jelas dalam ingatanku tentang kita beberapa bulan yang lalu. Masih membekas perbincangan saat itu yang membuat hatiku sedikit terluka. Pagi sejuk yang dibumbui awan gelap akhirnya membuat aku semakin dalam hanyut pada saat pertama kali diizinkan Tuhan menatap indah wajahmu. Tanpa sengaja memori ingatanku secara cepat memberi gambar yang lebih jelas, bahwa pertemuan pertama itulah awal dari segala cerita yang tanpa judul ini berlayar. Ada tawa yang sudah lama tidak kulihat dari sosok yang baru. Kita membicarakan sesuatu yang sempat membuatku tak berkutik karena tawamu semakin indah dalam pandanganku. Maaf bila sampai saat ini, ternyata kamu masih jadi yang pertama memberi warna pada hariku setelah sebelum kamu ada yang mampu membuatku kecewa lebih dalam.

Karena kamu, aku mengenal lagi arti dari cinta yang baru.

Karena kamu, aku kembali menyadari bahwa hati yang patah akhirnya mampu jatuh cinta lagi.

Karena kamu, dalam terbaring sakitpun aku tetap rela mengasihi sosok seperti dirimu.

Karena kamu, Tuhan mengizinkan aku untuk mencintai lagi lelaki baru.

Aku dan kamu mungkin tidak pernah meminta untuk saling dipertemukan. Tapi inilah cara Tuhan untuk mendewasakan aku dengan sukarela melalui sebuah luka. I wish that I could have said all that was in my head, but I can't....

Dan masih pada rasa yang sama. You still make me smile even you are the reason why I am sad. Proses menuju titik terakhir pada sebuah penantian terasa buntu ketika hatiku berhenti dikamu. Namun aku tertegun ditampar sadar bahwa akan ada saatnya ketika kita melihat ke belakang, menatap nanar pada proses luka adalah hal yang sungguh patut untuk dikenang. Bila nanti aku pergi, berhentilah untuk mencari. Karena sesungguhnya sudah lama aku bisikkan di dalam doa, bahwa aku tidak pernah berpura-pura pada kejujuran hati yang ada. Meskipun terkadang sulit dimengerti apa yang sedang Tuhan kerjakan dalam hidupku, aku selalu berbaik sangka pada rencana-Nya.

Yang terakhir, karena kamu, aku akhirnya kini lebih memilih untuk menikmati kesendirianku hingga tak ada lagi namamu memunggah ceritaku pada ciptaan-Nya yang baru.


Selamat bertambah tua, kamu. Terima kasih untuk selalu berharap yang terbaik dalam hidupku didunia ini.

Sebelum Melangkah

Terik cahaya pada siang itu membangunkan tidurku yang tak lelap sedari malam pukul sebelas. Mataku dipaksa terbuka oleh keadaan yang rumi...