Saturday, August 15, 2015

Tangan Kanan Yang Kau Sembunyikan

      

   #Playing -> Somebody's Heartbreak - Hunter Hayes



 
Canda tawa yang tak terhitung sudah berapa jumlahnya, kitalah penciptanya. Sebuah hadir yang tak terselip dalam doa, mengisi sebuah kekosongan yang rindu tentang keberadaan. Pemberi warna tiap ruang kosong. Pemancing emosi pada sedikit candaan yang terucap. Bukan yang paling istimewa, namun yang selalu ada.

            Pria canggung yang tak pernah mau menurunkan rasa gengsinya kepadaku, terima kasih pernah berani tuk menyapa. Kamu pernah terasa nyata pada khayalan yang fana. Semangat melabuhkan jari-jari membentuk kata dan saling memberi kabar di layar kaca iPhone. Berawal entah dari bait yang mana pertemanan ini terasa tidak biasa. Jika memang hanya teman, mengapa aku disembunyikan?

            Telah banyak cerita tanpa judul yang kau bagi pada ruang-ruang telingaku sejak pagi hingga pagi lagi. Dipercaya kamu untuk menjadi tempat bersandar saat “kehampaan” pernah berlabuh adalah kegemaranku. Bagai tangan kanan dari dunia yang tidak nyata tapi kau percaya. Semakin hari kita semakin dekat. Hingga aku sendiri tidak mengerti apakah pertemanan rasanya memang seperti ini? Tapi jika memang hanya sebatas teman, mengapa aku disembunyikan?

            Hampir empat bulan menjadi tangan kanan yang tak jarang kamu buat kesal, aku masih berusaha untuk tetap ada di dekatmu agar tidak pergi dan menyesal. Tanpa terpaksa aku memang menyukai hal yang biasa kita lakukan. Having someone to call at night and just talk. Terima kasih pernah hampir setiap dua hari sekali membagi cerita hidupmu padaku saat bulan mulai terlihat hingga matahari mulai terbit. Tapi... Apakah jika memang hanya sebatas teman, rasanya seperti lebih dekat dari pelupuk mata? Dan mengapa aku masih juga disembunyikan... Tahukah kekasihmu bahwa kita sedekat ini?

            Kita hanyalah sepasang teman yang bagai titik kecil dari satu garis panjang entah sebuah kebenaran atau kesalahan waktu dipertemukan. Ketika aku lambat laun menyadari ini bukan hanya sekedar pertemanan yang sewajarnya, aku berusaha mencari Utara tuk memalingkan perasaan. Tapi kamu datang dari selatan menghantam keinginan ku berpaling. Ketika aku melangkah ke sebelah Barat, dari bagian Timur kamu meniup kencang langkah kaki yang sempat enggan bertahan lagi.

            Aku mengerti, kamu memang tak sebaik yang dipikirkan banyak orang. Namun kiranya aku bersyukur dipertemukan denganmu yang selalu ingin memperbaiki diri. Menyenangkan saat bersamamu adalah ketika aku dijadikan prioritas di antara sekian kegiatanmu. Bukan yang utama, melainkan yang selalu kau ingat.

Tidak tahu kapan tepat waktunya, ada beberapa rules yang kau hancurkan sendiri. Maaf lagi-lagi terucap. Aku mencoba tuk percaya lagi. Kesekian kali. Dan masih saja rasanya tak sama seperti semula. Lebih baik kini kita saling berhenti dan berpaling untuk pergi. Kini kau harus memahami... Setiap hati punya batas menunggunya sendiri. Ketika sudah menjejakkan kaki di ujung jenuh, akan mundur tanpa disuruh dan mengalah tanpa diperintah.

Berkatmu, aku menyentuh sebuah kebahagiaan dari pertemuan yang diakhiri perpisahan tanpa perlu melambaikan tangan dari ”pertemanan”. Mungkin suatu saat kehilangan mampu mempertegas arti kehadiran. Apakah butuh pergi untuk sebuah peduli?


Mungkin yang terlepas dari tangan kita adalah sesuatu yang terlalu erat digenggam, dan apa yang hilang dari genggaman adalah kelelahan dari hancurnya sebuah kepercayaan.

Untuk kamu yang (mungkin) masih mampu menyimpan rindunya sendiri, terima kasih sudah menyatakan bahwa mengenalku adalah salah satu hal yang kau syukuri. Aku pun merasa (pernah) cukup bahagia sempat menjadi buku catatan harian yang kau torehkan banyak cerita. Berbahagialah bersamanya disana, entah siapa lagi orang selanjutnya.

Aku yang bagai tangan kanan tapi kau sembunyikan, mungkin sesekali akan melihat semua yang telah berlalu dan tersenyum sambil mengucap "kita pernah sebahagia itu melaluinya". Selamat menyelesaikan proyek akhir, sayang..
          




      With Love, MP♥      

Hiduplah Dengannya.

Sam Smith - How Will I Know  Ketika puing-puing kenangan yang tersisa masih berputar, tinggal aku yang meratapi bekas jeja...