Thursday, December 12, 2013

Hey! Double Twelve.

 
Hey! Selamat satu tahun! Sekarang genap satu tahun tempat ini menjadi sesuatu yang kupercayakan untuk diisi hal - hal dari jejak hidup yang aku alami. Aku mulai memberanikan diri untuk mengetahui hal baru bukan hanya untuk berbagi segala aktivitasku dijejaring sosial. Tapi sebuah tulisan. Yang tak semua orang mungkin dapat mengerti, terlebih lagi memahami. Aku menjadikan ini, suatu tempat untuk aku menaruh karya yang pantas tercantum pada setiap kata. Aku menulis, karena jiwaku selalu memanggilku ke tempat ini ketika aku ingin mengabadikan sebuah hal yang pernah terjadi dalam hidupku. Sebuah awal, sebuah perjuangan, sebuah akhir, sebuah ucapan syukur, rasa kehilangan, dan untuk hal yang sampai sekarang mungkin belum aku temukan lagi. Terima kasih telah menjadi yang setia untukku berbagi cerita. Meski kadang aku pernah lama meninggalkan halaman demi halaman untuk menaruh kata, percayalah disetiap layar yang berbeda kamu selalu ada. Selamat ulang tahun yang pertama, blog! :')

Hey! Aku rindu untuk mensyukuri suatu hal pada halaman ini. Terutama pada setiap tanggal yang selalu kuperhatikan. Malam ini, ada setumpuk ucapan syukur yang telah aku panjatkan pada Tuhan. Tepat satu bulan yang lalu aku sungguh terpuruk akan satu hal yang selalu saja menjadi alasanku untuk tidak melepaskan. Aku belum percaya akan mampu berdiri ditanggal ini dengan rasa yang berbeda. Aku memberanikan diri untuk coba melepaskan hal yang selalu aku sayangi dan hargai setiap detik kebersamaan dengannya. Tapi mungkin tepat satu bulan yang lalu Tuhan sengaja memberikan kenyataan yang tidak sesuai dengan harapan dan doaku. Agar aku benar-benar mengikhlaskan sesuatu yang tercipta bukan untuk menjadi kepunyaanku. Tuhan pernah menitipkan salah satu ciptaan-Nya yang ternyata telah berjalan terlalu jauh dihatiku. Terlalu lama untuk tinggal di sampingku. Aku pernah berkali-kali kehilangan, namun berkali-kali pula mendapatkannya kembali. Aku pernah berusaha untuk selalu pergi dengan menahan semua rasa sakit yang bertubi, tapi ternyata dia masih mencari. Dan aku terlalu lemah untuk tidak peduli akan rintihan suaranya yang menjerit agar aku kembali. Tapi setelah tepat satu bulan yang lalu aku benar-benar melepaskan, ia pun tidak mencari lagi bahkan sampai detik ini. Aku pernah memohon dengan bulir air mata yang menghiasi wajah ini kepadanya, agar jangan pernah datang kembali untuk memberi pesan apalagi berdiri dihadapanku dengan sengaja karena rindu terlalu egois untuk memaksanya menemuiku. Jangan. Aku menangis dengan rintihan yang pelan dan itu membuat air matanya turut pecah. Maaf...... Maaf untuk perpisahan yang selalu menjadi doa untuk masing-masing dari kita agar tidak terjadi lagi.

Hey! Ternyata masih kamu yang menjadi topik pada ceritaku kali ini. Persis seperti satu tahun yang lalu. Tapi tenanglah, aku akan tetap menepati janji yang pernah aku ucapkan. Aku tidak akan sama sekali mengganggu kamu yang selalu membukakan pintu untukku. Kamu selalu bilang bahwa pintu untukku akan selalu terbuka dalam hidupmu. Maka dari itulah aku enggan untuk menghancurkan usaha kerasmu untuk setidaknya mampu membiasakan diri tanpa kehadiranku. Kita pernah bahkan sering mengalami ini bukan? Jadi kurasa kamu pasti akan semakin kuat ketika harus kehilangan orang yang sama lagi dan lagi.

Hey! Setelah satu tahun berlalu dengan keadaan yang jauh berbeda, aku merasakan kuasa sang Pencipta pada tiap peran dalam hidupku. Setiap kali aku belajar untk mengikhlaskan sesuatu yang harus pergi, aku selalu mendapati rencana indah di balik kejadian itu. Meski waktu seakan terasa begitu lambat berjalan agar aku sampai tujuan. Kelegaan. Baik dari doa yang terjawab maupun doa yang tidak terwujud. Tidak terwujud pun aku tahu karena Tuhan telah menyiapkan hal yang jauh lebih indah di balik doaku. Seerat apapun aku menggenggam, akan lepas juga dirinya dari usahaku bertahan karena memang bukan aku yang diciptakan untuk mendampinginya. Setulus apapun aku mengasihi orang lain disekelilingku, akan selalu saja ada yang mencoba untuk mengkhianati. Dan Tuhan pun selalu menyadarkan aku akan hal yang terjadi dengan nyata dihidupku, agar aku dapat memilah milih mana yang pantas untuk tetap tinggal, mana yang harus ditinggal. Mana yang pantas dijaga dan mana yang harus lepaskan. Don't you feel the same feeling with me?

Hey! Ternyata pada tahun ini adalah yang paling berat ketika aku masih setia menyebut namamu dalam doa. Seperti terpintas lagi sepotong bayangan kebersamaan yang pernah kita lalui. Tapi mungkin seharusnya itu tak mengganggu usahaku yang ingin tetap maju meski tanpa kamu disampingku. Tenang dan janganlah khawatir akan tidak hadirnya namaku dalam layar ponselmu. Karna ketika aku rindu dan ingin sekali menyentuhmu dengan pelukkan, aku berbincang banyak pada Tuhan sambil memandang senyum indah wajahmu disebelahku dalam sebuah cetakan foto yang terselip rapih di dompetku. Ah, masih kamu. Ya selalu kamu.

Hey! Ini hanya sebatas tempat untukku mengungkapkan apa yang tak bisa aku katakan kepada kamu. Semoga setelah aku mengungkapkannya disini, dengan kamu membaca ataupun tidak, aku mendapati suatu kata yang jarang aku rasakan. Kelegaan.

Hey Twelve........

Entah pelukan dari foto ini bisa menguatkan kamu disana atau tidak, ada bantuan dalam doaku untukmu. Tetaplah berdiri disitu tanpa aku, sekuat mungkin. Setelah melihat ini, jangan sesekali kamu mencoba mengirim pesan dalam bentuk apapun. Kamu sudah berjanji bukan? :")


Hey Twelve........ Sampaikan padanya diluar sana yang sekarang entah bagaimana kabarnya. Aku masih menyimpan rapat segala tentang dia pada sisi manapun. Yang dapat terlihat banyak orang, sampai yang hanya dapat dipandang oleh aku dan sang  Pencipta semesta. Dari hal terpenting sampai yang teramat tidak penting. Bahkan saat wajah bodohnya yang selalu menciptakan garis pada ujung bibirku. Senyuman.

Selamat makin kuat dihari ini dan seterusnya, kamu!

God bless you...


With Love, MP♥

Hiduplah Dengannya.

Sam Smith - How Will I Know  Ketika puing-puing kenangan yang tersisa masih berputar, tinggal aku yang meratapi bekas jeja...