Saturday, May 25, 2013

.....


"Jika saatnya tiba untuk kita tak lagi bersama, jangan lagi kau cari aku. Karna kau pasti tahu alasannya.. Ketika kamu datang kembali, aku tak mampu untuk menolak kedatanganmu untuk kesekian kali. Dan pada saat itulah rasa sakit untuk yang pernah kau beri akan terjadi lagi.."

    Untuk beberapa waktu yang telah berlalu, aku masih mengingat percakapan kita yang sangat singkat. Ditengah waktu saat kamu dapat meluangkan sedikit waktumu usai bertugas. Melepas rindu karna tak banyak waktu untuk bertemu, bertukar cerita dengan tawa, mencoba untuk saling mengerti akan waktu yang terus berjalan, waktu seolah tanpa henti menghabiskan waktu kita berdua. Entah seperti ada sesuatu yang terasa sangat kuat pada masing-masing dari kita untuk tidak saling melepaskan genggaman tangan ini. "Kamulah tujuanku... Masa depanku..".

 Aku seperti tak pernah mendengar kata-kata itu sebelumnya.. Karna begitu sulit untuk bisa ada dihadapanmu seperti saat ini. Untuk beberapa hal yang lebih penting kamu harus selesaikan, dibanding harus menemuiku saat rindu ini begitu menggebu. Dan ketika kamu mengatakan hal itu... Entah mengapa hanya hatiku yang mampu mengindahkannya, namun lidahku berkata "Ketika kamu pergi, aku mohon jangan pernah kembali. Hati ini tak akan pernah mampu kehilanganmu untuk kesekian kali..."


   Kita sempat membicarakan hal saat kita saling kehilangan nanti, apakah yang akan terjadi? Mungkin kamu tak pernah mengindahkan pertanyaanku dengan jawaban yang membuatku yakin, bahwa kamu tak akan melakukan itu. Kamu memberi janji yang tak bisa kau tepati. Kamu meyakinkan aku tanpa bukti. Kamu menyakiti hati ini, namun menerima maaf serta kesempatan berulang kali dari orang yang selalu kamu sakiti. Ya, aku yang selalu kamu sakiti.

   Aku menguatkan diriku sendiri saat itu. Berusaha yakin bahwa kamu tak akan pergi. Menyemangati diri untuk menjadi lebih kuat saat hari berganti. Menghapus air mata ini juga tanpa sentuhan tanganmu.. Lagi-lagi aku menangis tanpa kau tahu. Aku menangis di belakangmu karna tak ingin menjadi beban dalam harimu. Tak sedikitpun ingin menimbulkan khawatir karena memikirkan aku yang sebenarnya begitu lemah saat kau tak ada.

 Pada setiap permintaanmu agar aku mengerti kesibukanmu, awalnya aku tak mampu. Namun aku mulai belajar untuk mengerti, akhirnya aku mampu untuk memahami. Kamu tersenyum.
Untuk setiap lelahmu karena tugas di luar sana, kamu meminta lagi pengertianku. Aku coba (lagi) belajar untuk lebih mengerti kamu lebih dari kemarin. Dan senyum diwajahmu semakin cerah.
Untuk setiap lupa yang kau katakan ketika membuat janji denganku, untuk setiap lupa dari ingatanmu tentang kita, untuk setiap terlambat darimu dalam segala hal yang kesekian kali, lagi-lagi kamu menagih pengertian dariku yang entah sudah berapa banyak kau terima.

Kamu selalu menagih pengertianku tanpa pernah memikirkan bahwa pengertian itu bisa saja aku hentikan. Kamu menuntut pengertian dariku yang tak pernah bisa kau coba lakukan untukku. Kamu menamparku dengan kata-kata yang seolah membuatku tak pernah memahamimu. Setelah aku berdiam dalam gelapnya hari-hari ini tanpa menyelesaikan apa yang seharusnya dituntaskan denganmu, aku tersadar. Aku selama ini memperjuangkan hubungan kita, sendiri. Aku memahami segala yang tak bisa kau penuhi. Tak bisa kau penuhi apa yang dibutuhkan oleh hubungan ini. Kamu tak menyeimbangkan apa yang seharusnya kau imbangi. Kamu tak menuntaskan apa yang menjadi tanggung jawabmu pada hubungan ini. Ada yang kamu tidak mengerti saat ini, dan kamu tak pernah ada keinginan untuk belajar mengerti..

Saat ini kamu harus tahu bahwa aku tak ingin lagi hati ini terus mengerti. Aku tak ingin hati ini semakin tersakiti. Maka aku belajar (lagi) untuk melakukan hal yang awalnya aku mampu lakukan tanpa perlu belajar. Awalnya aku belajar mengerti karena kamu yang menjadi alasannya. Dan dengan alasan yang sama pula aku belajar untuk berhenti mengerti. Aku harap kamu mampu menerima ketidak pengertianku yang selalu kau gunakan semaumu dan baru saja akan kau rasakan nanti, saat aku sudah tak ada lagi. Sayang, ketika kepergianku ternyata menyakitkan untukmu, nikmatilah. Aku pernah merasakan itu. Ketika ketidakberadaanku ternyata menyadarkanmu bahwa kepedulianku untuk mengerti kamu adalah hal yang perlu kau pelajari, belajarlah untuk mengerti, bahwa yang mengerti kamu seperti aku (mungkin) akan sulit kau temukan. Aku dalam sosok berbeda itu akan datang, ketika kamu mampu belajar untuk memahami semua hal yang kau sia-siakan.


    Kamu memilih pergi karna aku berhenti peduli, tak apa. Karna seharusnya dalam hubungan ini bukan hanya aku yang banyak belajar. Akan ada saatnya kamu tersadar, pergi tanpa menuntaskan masalah dalam hubungan kita adalah suatu hal yang salah. Lepas tangan pada sesuatu yang kau awali dengan baik dan kau akhiri dengan tragis, akan terus membayangi harimu tanpa henti. Tuntaskanlah apa yang belum kau selesaikan. Tapi ketika kamu terlambat untuk datang menuntaskan masalahmu pada hubungan kita yang dulu, dan kamu mendapati aku telah menemukan sosok yang baru, sekali lagi aku beritahu padamu... "Belajarlah untuk mengerti hal yang selalu kau sepelekan nilainya.." Terkadang apa yang tak berarti bagimu, adalah hal yang mati-matian dipelajari oleh orang kuat di luar sana.


   When you leave without finishing your problem with me, never dreamed there would be a chance for you to complete the problem. When you leave me without obvious reason, don't expect too much I will receive you back, because I still love you so much. I wouldn't do it even if I wanted to. If you leave me when I still in love with you, don't ever bring that love back to me. Because I would never ask for it back. Keep it. Or if you're able to get rid of love that I give, do itI'm not going back to you, even if I wanted to. I'm not going back to you, although it hurts for me. I'm not going back to you, although you asked me back in your life with tears on your face. Because I know....



When I receive you to come back, there will always be a farewell that we don't know when the time will come.


 With Love, MP♥

No comments:

Post a Comment

Sebelum Melangkah

Terik cahaya pada siang itu membangunkan tidurku yang tak lelap sedari malam pukul sebelas. Mataku dipaksa terbuka oleh keadaan yang rumi...