Monday, June 12, 2017

Sebelum Melangkah


Terik cahaya pada siang itu membangunkan tidurku yang tak lelap sedari malam pukul sebelas. Mataku dipaksa terbuka oleh keadaan yang rumit. Membuatku sangat ingin membenturkan kenangan itu dengan keras. Meskipun harus membekas.


Pada tiap relung dijemariku merindukan sentuhan tanganmu yang sudah beberapa malam ini membuatku lupa rasanya saat kau ada. Raga ini berusaha kuat menahan jari-jariku untuk tidak mencarimu dalam bentuk nyata. Sulit untukku menampar hati ini agar sadar, bahwa tentang kita harus berakhir tanpa pernah masuk dalam rencana.

Lelah kita sudah melewati batas akhir yang terlampau jauh. Ketika berpisah kau dan aku berteriak tanpa suara yang gemuruh. Ada perih yang akan sulit kamu pahami saat kita tak ada lagi. Dan aku pun kini hanya bisa bertanya pada diriku sendiri, mengapa aku tak mudah melangkah lebih jauh dari ini.

Terik cahaya kini sudah diganti oleh mendungnya langit yang mengikuti suasana hatiku. Pukul empat sore lebih tujuh menit langit yang terang berubah jadi kelabu. Hujan menitipkan salam untuk diriku yang sedang tersungkur berdoa sambil menyebut ampun pada Tuhanku, sebab aku terlalu menikmati hari bersamamu hingga tak sadar semakin jauh dari-Nya. Bukan salahmu, aku yang terlalu dalam jatuh ke dalam euphoria kebersamaan kita. Aku pernah lebih sakit dari ini, dulu. Seperti yang kuduga, perpisahan yang selalu kita hindari kini sudah menjadi tamu yang enggan pergi. Dan perpisahan itu juga yang membuatku berhenti memintamu bertahan. Bukan karena kalah oleh keadaan, hanya akhirnya kau dan aku saling menyadari cinta bukan perihal memaksakan.

Untuk saat ini, namamu menjadi kata yang paling getir pada hari-hariku. Mereka masih menyebut namamu seolah kita masih bersama nyatanya tidak. Sekalipun dihajar oleh kerasnya kenyataan bahwa kau dan aku tak lagi ada, aku percaya cinta akan tetap kuat di dalam hati juga terekam jelas dalam ingatan. Sebelum telapak kaki ini melangkah satu tahap, aku akan menikmati hari-hariku yang tanpa kamu. Walau harus perih ketika tak ada lagi ucapan selamat pagi, tak ada lagi pria lebih muda satu tahun dariku ini mengantar sesuatu ke rumah dan tempat kerja untuk aku makan, tak ada lagi satu-dua atau tiga liter susu kesukaanku yang dibawanya saat berkunjung ke rumah, juga sosoknya yang nyata menjemputku di tempat kerja. Lelah fisikku selalu hilang ketika ia ada di depan mata. Ketika ia dihadapanku, yang kuingin hanya satu. Peluknya. Meski bisa dihitung oleh jemari seluruh pelukan yang dapat aku raih selama kita masih bersama, dipeluknya adalah hal yang kusuka.


Ketidakberadaannya saat ini menjadi hal yang paling sulit pada tiap detik yang selalu berjalan ke arah jarum jam sebelah kanan. Mungkin karena kaki ini masih enggan melangkah dan lebih memilih untuk menikmati sepiku yang tanpa dia. Sebelum aku memilih untuk melangkah, aku ingin kembali akrab dengan sepi, sendiri, sedih juga hampa. Aku ingin menyapa mereka dengan hangat hingga aku lelah sendiri, sampai akhirnya memutuskan untuk siap melangkah dari awal sebuah perpisahan.



Aku akan terus ada, setidaknya sampai kau minta. sebab pergi darimu bukan keputusan, melainkan sebuah keterpaksaan.-@_geniuss

No comments:

Post a Comment

Sebelum Melangkah

Terik cahaya pada siang itu membangunkan tidurku yang tak lelap sedari malam pukul sebelas. Mataku dipaksa terbuka oleh keadaan yang rumi...