Sunday, April 24, 2016

Semakin Jauh

Now Playing - Austin Mahone "Someone Like You"



Kepada langit gelap yang diselimuti awan abu-abu, aku menatap ke atas melalui atap rumah yang transparan. Tidak ada putih awan yang  bermain di atas. Hanya kekelaman yang senang bersinggah disana hampir 30 menit terakhir setelah letihku bisa dihempaskan ke atas tempat tidur di kamarku yang nyaman. Aku tidak sedang membahas hujan deras yang sebentar lagi turun. Hanya begitu terkesima bahwa sore ini aku dan semesta punya suasana hati yang sama. Jauh dari kecerahan yang bisa membuat langkah ini mudah untuk maju ke depan. Saat ini rasanya lebih nyaman mengumpat di balik tembok berwarna gelap agar tak terlihat. Pandangaku sedang tak mampu mencari arah. Petunjukku hilang entah kemana.

Kini hidupku sedikit (lebih banyak) sulit untuk menghadapi kenyataan. Aku pun tidak tahu apa aku terlalu bodoh untuk berusaha menyimpan perasaan yang entah akan terbalaskan atau sebaliknya. Meski sejujurnya aku siap gila bila harapan-harapan ini harus musnah karena bertepuk sebelah tangan. Mungkin jarak dimana aku dan dia berpijak di bawah kolong langit yang sama terlalu luas membentang. Perbedaan musim di negara aku dan lelaki itu membuat keinginan hati ini semakin tahu diri. Bahwa dua hati yang gemar bertukar cerita meskipun perbedaan waktu hampir 12 jam sungguh sulit untuk bersama. Masih aku pelajari sampai detik ini, benar atau tidaknya hanya jarak yang menjadi ‘pemisah’ pada kebersamaan kita seperti biasanya. Masih beratkah beban hidup yang harus ia pikul disana. Tidak hanya belasan kali aku ‘berbicara’ pada Tuhan tentang bahagiaku yang rasanya berhenti pada segala sesuatu tentang dia. Masa lalu lelaki itu lebih dari pengingatku untuk mampu melalui hari dengan rasa percaya. Percaya bahwa hal terberat dalam hidup ini selalu dapat dilalui. Kerinduannya untuk pulang ke Jakarta menjadi benih harapan yang kini tumbuh subur dalam hatiku agar sabar menantinya tiba. Beruntungnya, ‘percakapan’ ku dengan Tuhan terlalu sering hingga aku percaya bahwa akan ada saatnya segala yang kunanti akan berbuah indah. Meskipun hasil akhirnya jauh dari yang selama ini aku bawa di dalam doa.

Sabarku tak akan menjumpai batas waktu sampai hari dimana ia akan kembali. Walau semakin jauh kurasakan keberadaannya, penantianku bukan lagi tentang betapa ingin aku memeluknya erat, tapi sebaris kalimat “I’m fine here, you don’t need to worry about me’ sudah sangat melegakan hatiku yang (hampir) lelah menanti. Aku tampak bagai lilin yang sedang setia menerangi si gelap yang begitu lemah. Mungkin semesta tak mendukung, maka dikirimnyalah angin kencang untuk mematikan api milikku. Jika aku memang harus pergi, baiknya gelap itu tak ada lagi karena telah berani menyongsong terang. Agar aku tidak sia-sia menjadi lilin yang meleleh dibakar kesetianku sendiri.


Dikabarkannya aku melalui mimpi semalam perihal keadaan sang pria, bahwa kesetiannya di negeri paman Sam masih tetap sama dan selalu bertambah. Yang menyiksa batinnya hanya karna ia tak mendapatkan hak untuk bertemu denganku dan melepas rindu. Itu membuatnya merasa semakin jauh dariku. Duka itu memang menyayat hatiku. Namun setidaknya ada cinta bernasib malang yang sudah juga sedang ia usahakan agar tidak padam. Kini yang berbahaya adalah daya ingatku yang begitu hebat merekam semua perjalanan tanpa ada lupa. Aku tetap menyukai itu meski nyawa dalam ingatanku semakin berbahaya.





With Love, MP♥

No comments:

Post a Comment

Sebelum Melangkah

Terik cahaya pada siang itu membangunkan tidurku yang tak lelap sedari malam pukul sebelas. Mataku dipaksa terbuka oleh keadaan yang rumi...