Friday, September 12, 2014

Kata Hatiku Yang Tak Terucap.

#Playing - Ariana Grande - My Everything

Detik jarum jam yang selalu setia berputar ke arah kanan, mengecoh yakinku pada janji tetap adanya kamu disampingku. Sengatan semut merah kecil mengalahkan perih yang kau tinggal entah dengan sengaja atau tidak, tanpa kabar. Dengan acuh tanpa menorehkan sedikit kepahitan kata selamat tinggal kamu sudah semakin jauh pergi tanpa kelihatan. Semakin hari semakin jauh, semakin aku tidak mengenali kamu juga parasmu.

Kita pernah sedekat ini, lalu terpisah tanpa ada satupun rindu melekat.


Ada yang tidak terima disini. Hati yang tak merasa sakit ketika kamu pergi, namun dilukai dengan timbunan janji yang kau ingkar sendiri. Kamu datang tanpa diharapkan, kini pergi pun tanpa penjelasan. Terlihat sama seperti mereka yang sebelum kamu singgah dihidupku, namun bedanya aku pernah memiliki kamu dengan doa indah pada setiap tutur kata yang ada. Kau telah sengaja tanpa permisi memilih bungkam serta sama sekali tidak ada sedikit gerakkan tuk tetap terlihat ada walau tak nyata.


Kamu tidak menjawab pertanyaan-pertanyaanku. Enggan merespon pernyataan yang tertera.. Tidak berusaha untuk menghadapi masalah yang sebetulnya mudah untuk terselesaikan. Ada pengabaian pada penantianku ketika kamu tak memberi kepastian akan seperti apa yang disebut dengan kita setelah adanya masalah ini. Bukan.... Sesungguhnya aku tak ingin menyebutnya sebuah masalah. Bahkan kamu tahukah sayang........ Sampai detik ini aku sama sekali tidak tahu apa yang membuat kamu lebih cinta untuk terus diam dan semakin jauh dari jangkauanku.


Sungguh aku tidak mengapa jika yang kau inginkan kini adalah pergi. Setidaknya sayang, bisakah kamu menyelesaikan dengan rapih sesuatu yang kamu mulai sendiri? Karena aku pun tidak akan mengais perhatianmu pada bumbu tangis, agar tidak meninggalkanku sendiri. Pun ketika kau bergegas dengan langkah pasti semakin jauh, aku juga enggan menghalangi. Sia-sia. Terlihat seperti tembok yang kupaksa dorong agar hancur jika aku menghalangi kamu. Pergilah..... Kini aku tidak akan menghalangi. Bahkan jauh sebelum aku-kau pilih untuk menjadi penyembuh luka pada hatimu yang pernah patah. Aku tidak pernah melarang kamu tuk memilih yang lain. Namun hatimu sendiri ternyata lebih memilih tuk berlabuh pada setumpuk kasih cinta tulus yang aku miliki.

Dan sudah tujuh hari dikurang empat, panggilan sayang pada layar kaca handphone milikku tidak tertera. Lebih dari sembilan puluh enam jam, dikurang dua puluh empat menit dan delapan detik aku tidak mengetahui kabarmu sejak terakhir kalinya ada kata sayang-kau ucap dengan sengaja bagai kata terakhir sebelum hilang tanpa permisi. Kini kamu membuatku semakin cerdas tuk berpikir, pria baik-baik yang dapat dipercaya adalah bukti dari segala kata yang keluar dari mulutnya. Kini kamu membuat hatiku semakin ikhlas untuk melepaskan, dan kusadar bahwa yang pernah dibawa dalam doa tuk tetap terus bersama takkan selalu sesuai dengan kehendak-Nya.

Should we break up?

Kamu memang datang bersinar tepat saat hariku sepintas terlihat kelam. Ingat sayang... Sepintas. Bukan artinya selalu. Bukan juga artinya berlalu. Datangnya kamu terlihat tepat waktu pada kacamata manusia sepertiku. Entah bagaimana maksud sang Pencipta mempertemukan kita, indah memang awalnya. Pada sentuhan lembut jemarimu yang meraih tiap helai pada rambutku, kau kecup kening ini dengan manis. Juga pelukkan hangat pada tiap temu yang selalu erat, kamu enggan tuk tidak mendekat jika aku tidak memandangmu sekejap. Aku mengucap syukur pada bahagia-bahagia yang tercipta. Jika memang bukan kamu orang yang Tuhan pilihkan tuk ada pada masa depan yang kupunya, percayalah kamu adalah anak tangga yang sulit kutebak ketidakjelasanya. Kau memang bukan satu-satunya yang pernah ada dan bukan juga yang paling kucinta. Tapi biarlah Tuhan tak pernah bosan bahwa tiga kata pada nama lengkapmu selalu ku eja dalam doa malamku dan sebelum ayam berkokok dipagi subuh.

Kini mungkin kau semakin jauh dari jangkauanku, sudah kuanggap kau adalah segalaku yang pernah ada pada semua yang sementara. Kuberi senyum terbaik kepada mereka yang menanyakan kabarmu, kujaga sebaik mungkin agar tetap terlihat baik-baik saja kekhawatiran yang terlihat jelas diwajahku ketika kerabatku tahu bahwa kamu............................ Kini semakin jauh. Bukan mencari siapa yang benar dan salah disini. Aku hanya ingin kamu cukup berani untuk menyelesaikan sesuatu yang pernah kamu mulai sendiri. Because if you want, you will. Tapi ketika kamu tidak ada sedikitpun niat tuk segala sesuatunya diakhiri, biarlah aku yang ambil alih kini.

You are not worthy to get a glorious love from me, liar.
Kita, sudah berakhir. Dan semuanya sudah selesai. Entah kau kan melirik kata demi kata pada layar yang kau punya tuk sekedar mengetahui pernyataan ditiap hatiku yang tak dapat kau dengar oleh suaraku, bukan lagi urusanku. Aku bersyukur, karena............. Kupikir kamu sudah lebih dari cukup tuk menjadi pasangan hidupku, tapi nyatanya masih juga bukan kamu yang Tuhan pilih tuk mendampingiku. Disana, ada yang jauh lebih layak dan jauh lebih tepat untuk diletakan sebagai pendamping pada masa depanku.. Dan itu ternyata bukan kamu. 




Dengan penuh kasih & ikhlas,
Aku - Yang mengasihimu dengan tulus
serta bahagia denganmu walau sejurus.

No comments:

Post a Comment

Sebelum Melangkah

Terik cahaya pada siang itu membangunkan tidurku yang tak lelap sedari malam pukul sebelas. Mataku dipaksa terbuka oleh keadaan yang rumi...