Monday, May 12, 2014

Ketahuilah.



 Last Kiss - Taylor Swift

Untuk setiap kehadiran yang melegakan, kini aku berduka akan kepergiannya.
Kepada setiap desah dari kata rindu yang biasa terdengar, aku berkabung dengan jejak langkahnya yang tersisa.
Termangu pada setiap sepi tanpa canda tawanya.
Terbengkalai hidupku saat tak membahagiakannya.
Seperti terjerahak usahaku mencarinya.
Ketahuilah... Ada hati yang melafalkan setiap kata dari namamu dengan pikiran hampa.

Ditiap debar jantungku rindu keberadaanmu.
Ada yang lama tak kau jamah hangat, punggung tanganku
Tak dapat gagah melangkah kini tapak kakiku.
Suara indahmu masih teringat dalam benakku hingga mengelakpun aku tak mampu.

Kudapati tubuh ini semakin melemah. Mendengar namamu aku tersentak.
Semakin hari semakin menyurut semangatku. Melangkah tanpamu aku sesak.
Aku tak punya lagi kuat untuk berpijak.
Semangatku telah pergi, lidahku ingin menyebut rindu namun tak bergerak.

Kamu pernah merenggut kesepianku tanpa permisi.
Kepadamu, aku pernah tidak yakin menaruh hati.
Tiada pernah kumenduga akan mencintaimu semudah ini.
Walau pada awal cerita kita tak pernah ada sebuah janji untuk pergi.
Tetaplah rencana Tuhan yang selalu menang agar hubungan kita segera diakhiri.

Melihat ada yang mampu mendekap hangat tubuhmu, hatiku terbakar.
Mendengar kabar kau telah merajut kasih dengan sosok yang baru, tanganku gemetar.
Bagai langit terlukis kilat ingin menyambar.
Kepada setiap pria yang mampu membuatmu jatuh cinta sampai jantung berdebar.

Ketahuilah sayang bahwa aku masih belajar untuk merelakan.
Tak semudah itu kamu, aku lupakan.

Ketahuilah sayang namamu masih terukir dihatiku meski cinta yang baru sudah bersandar.
Karena namamu pernah kupahat dalam hati dengan tulusnya cinta yang berkobar.

Ketahuilah sayang tanganku masih ingin menguatkan kamu ketika kau jatuh.
Seperti lemah kakiku menapak bumi jika aku tahu kau tersakiti dan tak dapat kusentuh.

Ketahuilah sayang segala pemberianmu masih tertata rapih ditempatnya.
Lengkap dengan segala cerita ndah dan tanggal yang tertera.

Ketahuilah sayang bahwa setiap kata yang kau baca ini lebih dari sebuah isi hati.
Ada hati yang ingin didengar namun mulut tak bisa berucap karena kau tlah dimiliki.

Pada rerintik hujan aku membiarkan memori ingatanku dibawa pergi. Tepat 64 bulan yang lalu pada senja dihari Senin itu aku melabuhkan hati kepada kamu yang sampai detik ini masih di dalam hati. Yang hebat seperti kamu memang tak kutemui. Tapi biarlah yang lain boleh singgah disini, mungkin suatu saat pilihan Tuhan akan kutemui. 

Dan aku memohon maaf padamu sayang...

Jika sosok yang Tuhan ciptakan untukku dipelaminan nanti ternyata bukan kamu, janganlah kau anggap aku pandai mengingkar janji. Karena pada masa kita bersama aku pernah mengucap padamu agar kau aku nikahi. Itu bukan sekedar janji. Andai Tuhan berpihak pada cinta kita pun detik ini kau sedang kudekap hangat dengan kasihku yang semakin menumpuk hingga tak kau temukan lagi ragu tentangku dalam hatimu. Kita pernah bertahan meski banyak rintangan. Dipisahkan keadaan namun memilih lagi tuk saling bergandeng tangan. Memang sampai detik ini kehilanganku masih selalu tentangmu sayang.. Bukan karena aku enggan berjalan, hati ini yang selalu resah ketika kamu tak dalam genggaman.

Ketika esok aku tiba-tiba lupa akan cerita tentang kita, bacalah semua surat yang kubuat tentang kamu. Bahwa dahulu, sebelum semuanya terlupa, aku pernah mencintai kamu dengan sepenuh jiwa.

Ketahuilah sayang, kamu satu - satunya yang tidak ingin kulupa dan tetap kucinta.......


Dan ketika cintaku terlelap tak lagi kau rasa dalam dada, ketahuilah namamu pernah kueja dalam doa sekalipun aku diselimuti timbunan kecewa................................





Tertanda,
Aku.
Pria yang masih mengingat segala tentang kita dan
mencoba untuk menemukan penggantimu dihatiku,
-12-

No comments:

Post a Comment

Sebelum Melangkah

Terik cahaya pada siang itu membangunkan tidurku yang tak lelap sedari malam pukul sebelas. Mataku dipaksa terbuka oleh keadaan yang rumi...