Wednesday, December 19, 2012

Berdoa dan Percaya


Untuk sosok laki-laki yang pernah hilang saat aku membutuhkan kasih sayangnya, ini semua kata hatiku, Ayah..

Aku tak ingat sejak kapan ia mulai pergi meninggalkan rumah. Tak pernah aku temukan apa alasannya. Ia yang kukenal begitu mencintai keluarganya termasuk aku, tak lagi tinggal bersamaku dalam satu atap rumah yang sama. Entah mulai kapan aku terbiasa dengan tidak adanya ayah dalam keluarga kecil ini, aku dan adikku mulai tidak menanyakan keberadaannya. Aku mulai terbiasa untuk selalu kuat hidup dalam keluarga yang kekurangan sosok laki-laki tangguh di dalam rumah, ketidakberadaannya mulai menguatkan hatiku untuk tidak cemburu melihat orang lain dapat merasakan pelukkan hangat dan ciuman manis dari seorang ayah. Aku bukan tidak pernah merasakannya, tapi mungkin memang belum waktunya lagi aku, adikku dan ibuku untuk merasakannya kembali. Aku hanya belum terbiasa untuk tetap tenang saat melihat wanita tangguh yang melahirkan aku dan adikku selalu menangis saat malam, dinginnya angin malam tanpa pelukkan seorang ayah yang dapat menghangatkan tubuhnya. Aku mengerti, ibuku merindukan pujaan hati dan belahan jiwanya yang sejak tahun 1992 meminta ibuku untuk menjadi pendamping hidup hingga maut memisahkan. Aku tak bisa, aku merasa hancur melihat air mata yang berlinang menghiasi wajahnya.. Aku tak dapat menahan rasa sakit yang begitu dalam, melihat ibukku memendam rindu yang teramat sangat kepada ayahku..

Sempat aku bertanya pada Tuhan dalam diamku yang hampir lenyap dalam gelapnya malam. Di depan rumah aku duduk dan menatap langit yang kosong tanpa bintang-bintang.
Tuhan, dimanakah ayah? Pernahkah ia rindu pada kami yang selalu mendoakannya setiap malam? Oh Tuhan, beribu tanda Tanya dalam hatiku.. Aku tak sanggup menjalani ini, tapi aku tak ingin berhenti untuk selalu menyebut namanya dalam doaku dan perbicanganku denganMu.. Kuatkan kami menjalani ini Tuhan…..”
Ibuku sejak lama diam di belakangku dan mengintip dari balik dinginnya tembok dalam rumah kami. Ia hafal aku selalu pergi ke depan rumah dan menatap langit pada saat malam hari dan meneteskan air mata tanpa pernah aku ingin mengusapnya.

 “Aku tahu ibu lemah, ibu berusaha menyembunyikan rasa sakit dan kehancuran sampai saat ini. Aku sadar ibu memiliki kelemahan dibalik raga yang tangguh. Segala perjuanganmu untuk menghidupi aku dan adik tidak mudah bagimu bukan? Sampai kapan kita seperti ini bu?”

 “Anakku, saat kau mulai merasa lelah menghadapi semua yang terjadi dalam hidup ini. Coba kau tenangkan hatimu dan mulai dengar saat kata hatimu berbicara : "Bersabarlah & lapangkan hatimu untuk dapat menerima apapun yang terjadi dalam hidup ini, dan tetaplah melakukan sesuatu agar yang kau inginkan kembali dalam hidupmu. Dengan cara apa? BERDOA & tetap PERCAYA. Karna kebahagiaan selalu datang kepada mereka yang menangis dalam doa, mereka yang disakiti hatinya tetapi selalu mampu untuk mengampuni, mereka yang mencari jalan keluar untuk setiap permasalahan dan mereka yang berusaha mencoba untuk selalu kuat. Karena hanya orang seperti itulah yang dapat menghargai pentingnya orang-orang yang pernah hadir dalam hidup mereka. Seperti ayahmu..

Dalam saat suka maupun duka, aku selalu mengingat kata-kata itu. Dan aku percaya pada kata hatiku saat aku mulai merasa lelah, aku akan BERDOA dan PERCAYA bahwa kebahagiaan akan menjemput saat aku tetap terus berusaha.







website Bukune (http://www.bukune.com/)
Fan Page Facebook Bukune (http://www.facebook.com/bukunepenerbit)
Tumblr Bukune (http://bukune.tumblr.com/)



With love, MP

No comments:

Post a Comment

Sebelum Melangkah

Terik cahaya pada siang itu membangunkan tidurku yang tak lelap sedari malam pukul sebelas. Mataku dipaksa terbuka oleh keadaan yang rumi...