Tuesday, April 29, 2014

Kalimat Senjaku Di Penghujung April.

 Pastikan kamu membaca ini ditemani
https://soundcloud.com/windyhar




Ada secercah cerita yang sedikit menyelinap masuk dalam ingatan. Rindu memanggil pelan dengan bisikkan. Aku diseretnya ke dalam cerita lalu, perlahan. Hasrat seperti tak kuat tuk menahan. Bagaimana bisa aku melangkah pada masa yang telah menjadi serpihan ? Jika diingat saja membuat kuatku jadi patah tertimpa reruntuhan. Ada yang rindu disana tapi memilih diam tak mengatakan. Aku tahu seseorang pada masa itu mengingini sebuah kehadiran. Namun sayang kini aku tak cukup berani untuk menghampirinya beri kekuatan. Aku tahu kau menitip rindu. Rintihanmu dalam sepi mendatangiku lewat mimpi sampai membentang. Menangislah sayang... Biarkan air mata pada pipimu bergelimang. Maaf... Bukan aku tak ingin menjadi tempatmu bersandar dan menggeser posisimu pada hatiku sebagai bintang. Tapi menghindari namamu saja aku dibuat agar sengaja lupa dan sia - sia usahaku tuk menerjang.

Dan... Kau eja lagi namaku kini... Bagaimana caraku menahan rindumu untuk datang ? Bertahanlah sayang... Aku tak punya kuasa tuk disampingmu sekarang. Kini kamu sudah ia miliki. Untuk menemuiku membayar rindumu pasti dia melarang. Bertahanlah dengan dia disana. Bukankah kamu dulu yang memilih pergi dariku dan berhenti berjuang ? Aku hanya tak ingin mengganggu kamu yang sudah sepasang.

Pada perpisahan kita, aku menemukan sebuah kelegaan yang sempat sirna. Pada perpisahan kita, aku menemukan jawaban atas segala doa. Sempat aku menyayangkan seribu empat ratus enam puluh lima hari perjuangan cinta atas nama kita. Namun ternyata aku keliru. Apa yang pernah kita perjuangkan justru menjadi salah satu cara untuk lebih kuat dari biasanya setelah tak lagi bersama.
Pernah ku berbincang dengan Tuhan tentang akhir cerita kita. Kukatakan saat itu padaNya...

"Tuhan.... Jika memilikinya adalah suatu keberuntungan, biarlah kepergiannya menjadi sebuah  Anugerah dan pelajaran untuk masing - masing dari kami berdua. Berikanlah kekuatan agar kami mampu menghadapi perpisahan ini dan menjadi pribadi yang lebih bijaksana saat sudah tidak bersama. Terima kasih telah memberi izin kami tuk saling mengasihi dalam beda. Ternyata dalam perbedaan menyebut nama-Mu pun mampu menyatukan kita meski rasanya seperti sementara..."

Pernah aku bertanya pada Tuhan bagaimana caraku melanjutkan hidup jika kamu tiada. Pernah kamu mengusap pipiku sepulang kerja sambil bertukar cerita. Pernah aku meminta Tuhan agar segala atas nama kita tak menjumpai akhir. Pernah kamu berdoa dengan memejam mata agar perpisahan pada hubungan kita tak ada.

Sebab pernah kita saling memunggungi dan jalan tak bersama. Namun kehilangan lagi - lagi tak menjumpai kelegaan. Hingga akhirnya tak terbendung lagi rindu yang menghantam dengan hebatnya. Kembali lagi sesuatu yang dilandasi dengan cinta. Demi nama Tuhan kamu bersumpah, bahwa tiada pagi ingin kau jalani tanpa adanya aku. Demi nama Tuhan kita pernah bersatu dan tetap berjalan meski perbedaan tak bisa dipungkiri karena Iman.

Bagaimana bisa kita dipertemukan untuk saling meninggalkan ? Kini aku mengerti sayang... Perpisahan kita banyak mengajarkan hal berkesan. Kita pernah bersatu karena dipertemukan. Kita pernah belajar menghargai mengenai perbedaan. Kita semakin kuat mengasihi saat perbedaan mulai tak terlihat. Namun terkadang kita melalaikan suatu hal. Bahwa ternyata Tuhan ingin melihat sampai sejauh mana kita mencintai-Nya jika yang disebut dengan beda itu........ ada.

Aku mengagumi prinsip yang kita miliki. Sebesar inginmu tak ingin aku pergi dan sekeras apapun aku melawan sesuatu yang ingin memisahkan kita, pada akhirnya hanya kekuatan cinta kita kepada Tuhan yang mampu meluluhlantahkan aku dan dirimu untuk bersama. Aku terlalu mencintai Sang Pencipta hingga akhirnya ku (harus) merelakanmu berjalan kini tanpa aku. Membiarkan kamu mengingkari sumpah yang tulus dari hati, sungguh sebenarnya tak ingin kau lakui.

Kini... Aku mendapati kamu bersama dia setelah lama belajar mengikhlaskan aku. Kini... Kau tepati janjimu padaku setelah kita berpisah, kau harus mendapati penggantiku yang satu Iman dengan kamu. Terima kasih sayang ... Melihatmu bisa bahagia tanpaku kini adalah doa yang pernah ku panjatkan dalam rintihan. Kamu pernah menjadi alasan untukku tetap bertahan. Kini melihatmu mampu bahagia dengan yang lain, akan menjadi alasanku untuk tetap melanjutkan hidup berjalan ke depan.

Atas nama perpisahan yang tak pernah menjadi ingin pada doa kita, berbahagialah kamu disana bersamanya...........






 Senjaku dipenghujung bulan April, Maria Priscilla........

No comments:

Post a Comment

Sebelum Melangkah

Terik cahaya pada siang itu membangunkan tidurku yang tak lelap sedari malam pukul sebelas. Mataku dipaksa terbuka oleh keadaan yang rumi...